Rani (Bagian 2)

Cerita ini kelanjutan dari kisah Rani

*****

JANGAN sampai seseorang membuat gadis itu menangis, bisa runyam urusannya. Rani pernah menjadi juara karate. bila hatinya terluka dan marah ia akan mengamuk.

Pernah suatu ketika seorang teman lelakinya coba mengejek dan melecehkannya, tapi apa yang terjadi teman lelakinya itu masuk rumah sakit karena patah tulang dihajarnya.

“Apa yang membuat adek mau menjadikan abang sebagai pacar ? Abang hanyalah lelaki biasa, kaya tidak wajah pun pas-pasan.” Rio berkata dan menatap ke Rani.

“Lelaki tampan banyak bang, tapi yang memegang prinsip itu yang penting, di mata saya abang baik dan punya prinsip, janganlah materi menjadi ukuran untuk menilai seseorang, harta bisa dicari tapi kepercayaan tidak bisa dibeli, saya mempercayai abang.”

Rio seperti tertampar dan hanya bisa terdiam oleh perkataan Rani.

“Sekarang adek maunya bagaimana ? abang harus apa biar adek senang.”

“Saya ingin disayang oleh cowok yang memang sayang padaku, kalau abang melakukan sesuatu cuma terpaksa untuk menyenangkanku lebih baik tidak usah.” Kata Rani bersungut-sungut dan merengut sambil memukul-mukul bantal di pangkuannya.

Rio menjadi ingin tertawa melihat ulah Rani. Ah sepertinya Rio tidak ingin lagi melawan kata hatinya, di genggamnya tangan gadis itu.

Rani menoleh dan sedikit terperanjat, dilihatnya Rio tersenyum manis padanya.

“Maukah adek menjadi pacar abang ?” Kata Rio memandang wajah Rani tidak berkedip.

“Mauuu..!” Jawab Rani spontan memeluk tubuh Rio yang duduk di sampingnya.

*****

Sebulan sudah berlalu, semenjak Rio dan Rani menjalin hubungan asmara, Rani kerap berkunjung ke rumah Rio.

Mereka pun sering meluangkan hobby bersama seperti latihan olahraga atau ke studio musik untuk bermain drum.

Sore itu kebetulan mereka sedang berjalan berdua di dalam mall untuk berbelanja. Tanpa sengaja Rani bertemu dengan seseorang lelaki yang dulu pernah menjadi mantan pacarnya.

Lelaki itu bernama Dandi, seorang cowok macho, bertubuh tinggi, wajah ganteng, berambut sedikit gondrong.

“Hay Ran, apa kabarmu beb ?” Dandi berdiri menghadang langkah mereka.

“Hay, kabar baik.” Jawab Rani sambil memegang tangan Rio.

“Ran, saya mau bicara sebentar dengan kamu.” Dandi berkata sambil memegang tangan Rani dan bermaksud mengajak Rani bicara empat mata.

“Eits ! apa-an kamu pegang-pegang tangan segala ! bicara saja di sini kalau ada perlu.” Kata Rani marah sambil menepis tangan Dandi.

Cekcok di antara mereka pun terjadi.

“Oo, ternyata kamu sudah tak mau lagi padaku karena cowok ini ya ?!” Kata Dandi sambil menunjuk dan memandang sinis ke Rio.

Rio tetap bersikap tenang dan mengamati gerak lelaki itu.

“Ah sudah ! saya tak ada waktu denganmu, minggir !” Kata Rani mendorong Dandi lalu melangkah menggandeng Rio.

Dandi terdorong ke samping dan hampir terjatuh.

“Hey ! enak saja kalian pergi !” Teriak Dandi sambil menyerang melayangkan tinju ke arah Rio.

Rio menoleh dan melihat tangan Dandi mengarah ke wajahnya, dengan cepat Rio menangkap tangan itu lalu mengayunkan kakinya menyapu kaki Dandi hingga terjengkang jatuh.

“Bruukk !”

Belum sempat Dandi berdiri, Rio melayangkan pukulan keras ke rahang hingga membuat lelaki itu tak kuat berdiri dan meringis di lantai.

Rani berdiri berkacak pinggang melihat Dandi tak berdaya di lantai, Rio memegang tangan Rani dan mengajaknya melangkah pergi dari tempat itu.

*****

Semenjak sering jalan bersama Rani, Rio jadi banyak mendapat masalah. Ia jadi mempunyai banyak musuh, sering ia berkelahi di jalan dengan orang-orang yang pernah bermasalah dengan Rani.

Rio jadi lebih waspada dan mulai sering berlatih gerakan-gerakan bela diri yang sudah jarang ia latih. Dulu ia pernah belajar karate, tapi hanya sebentar, ia lebih suka mengembangkan sendiri jurus dan gerakan praktis dari seni tarung jalanan.

Bahkan beberapa kali Rio mendapat telepon ancaman dan teror, tapi semua itu ia sikapi dengan tetap tenang.

Suatu hari Rio memutuskan untuk berhenti melanjutkan kontrak kerjanya di angkutan umum. Ia tak lagi meneruskan kontrak mobil yang sudah habis masa kontraknya itu. Ia merasa bosan dan mencoba melamar kerja pada sebuah perusahaan. Nasib baik, Rio diterima kerja di perusahaan itu sebagai karyawan.

*****

Satu bulan telah berlalu, hari itu Rio sedang duduk di sebuah kantin untuk makan di area kantor tempat ia bekerja. Ia telat makan siang karena ada tugas di luar kantor dan baru saja tiba kembali ke kantor itu setelah jam 14:10.

“Mas mau makan apa ?” Tanya seorang wanita yang melayani di kantin itu. Wanita itu berparas manis namanya Mila, usianya masih tergolong muda sekitar 26 tahun.

Mila adalah seorang janda kembang yang menjadi rebutan karyawan lelaki di tempat Rio bekerja. Mila memiliki lekuk tubuh yang bagus dan senyumannya menggoda setiap mata lelaki yang memandangnya.

“Saya pesan nasi lauk telur dadar pakai tumis kacang panjang, minumnya air putih saja mbak, itu saja.” Jawab Rio yang saat itu hanya makan sendiri di kantin itu. Kantin itu telah sepi ketika karyawan telah kembali bekerja pada saat jam istirahat selesai.

“Kok makan-nya telat mas ? teman-temannya yang lain sudah pada makan semua tadi.” Kata Mila sambil memberikan sepiring nasi yang di pesan Rio.

“Iya mbak, tadi saya ada tugas ke luar kantor perintah atasan.” Jawab Rio singkat, ia pun segera makan dan tak ingin berlama-lama karena harus menyiapkan laporan kepada atasannya.

Mila senyum-senyum sendiri ketika melirik Rio yang makan dengan cepat, ia seperti geli melihat Rio makan seperti itu.

“Mas makan kok seperti dikejar setan, pelan-pelan mas nanti keselak.” Kata Mila.

“Hehee.. iya mbak.” Jawab rio tersenyum sambil terus menguyah nasinya.

Dalam waktu singkat Rio telah menyelesaikan makan-nya, setelah membayar makanan Rio pun segera beranjak meninggalkan kantin itu.

*****

Sore pun menjelang, saatnya orang-orang mulai pulang dari tempat-tempat kerja mereka sebagai rutinitas kehidupan di pusat kota besar.

Di sore yang teduh itu, Rio melangkah keluar dari halaman kantor tempat ia bekerja menuju sebuah halte. Semua karyawan lain dan beberapa temannya sudah duluan pulang.

Ia berdiri sesaat di tepi jalan sambil menunggu angkutan umum atau bus yang biasa ia naiki untuk pulang.

“Tinininit..! tinininit..!” Suara Hp dari saku celananya berbunyi.

“Assalamualaikum, hallo dek.” Jawab Rio mengangkat panggilan telepon dari Rani.

“Waalaikumsalam, lagi dimana bang ? Sudah pulang kerja apa belum ?” Kata Rani.

“Abang lagi nunggu angkutan di halte dekat kantor, ini baru saja keluar kantor mau pulang.” Jawab Rio.

“Oh, ya sudah tunggu di halte itu jangan ke mana-mana bang, kebetulan saya lagi habis ke mall tadi dan dekat dari kantor abang, sebentar lagi saya sampai di sana.” Kata Rani menutup pembicaraan.

Rio berdiri menatap Hp itu sejenak lalu memasukkannya ke dalam saku celana.

Tak beberapa lama, terlihat mobil sport hitam melaju kencang dengan suara knalpot racing melintas di jalan itu dan berhenti tepat di depan halte tempat Rio berdiri.

Rio terkejut saat kaca mobil itu perlahan turun dan terlihat Rani memanggil di dalamnya.

“Bang, ayo naik.” Kata Rani sambil tersenyum dari dalam mobil itu.

Ternyata Rani yang mengemudikan mobil itu. Hari itu Rani habis mengunjungi rumah orang tuanya dan membawa pulang mobil miliknya yang selama ini hanya tersimpan di dalam garasi rumah orang tuanya itu.

Rio membuka pintu mobil dan segera naik, lalu mobil itu pun bergerak maju dan melaju dengan suara knalpot yang bising mengerang.

“Dek pelan-pelan santai saja bawa mobilnya, sudah seperti pembalap saja bawaannya.” Kata Rio kepada Rani yang sedang menyetir mobil.

“Hehehe.. tenang bang, mobil ini sudah lama tak jalan, jadi perlu digeber sedikit biar lancar semua putarannya.” Jawab Rani sambil menambah kecepatan mobil itu.

Rio hanya bisa pegang jidat duduk tersandar, sementara mobil terus melaju kencang melintasi jalan raya.

Hari berganti hari, tak terasa hampir enam bulan sudah Rio bekerja sebagai karyawan di perusahaan itu. Suatu hari, Rio baru selesai tugas di luar kantor, dan kembali ke kantornya itu sudah hampir sore, ia biasa mendapat tugas untuk survey beberapa lokasi dan meloby beberapa klien yang bekerja sama dengan perusahaan tempat ia bekerja.

Jam telah menunjukkan pukul 15:00, Rio terlihat berjalan masuk ke dalam kantin, ia bermaksud makan karena belum makan siang sebelum kembali masuk ke kantor.

Di dalam kantin terlihat sepi, yang ada hanya Mila pelayan kantin dan bu Salmah pegelola kantin. Mereka tampak sedang ngobrol saat Rio masuk untuk makan.

Mila berdiri menghampiri etalase dan tersenyum manis saat Rio datang.

“Mau makan atau mau ngopi mas ?” Tanya Mila kepada Rio yang berdiri melihat-lihat menu makanan yang ada dalam etalase.

“Wah, sudah pada kering semua lauk makannya ya mbak ? Yang tersisa tinggal telur dadar sama sayur, ya sudah saya pesan makan pakai telur dan sayur itu mbak, minumnya air putih dan segelas kopi.”

“Iya mas, sudah pada habis lauknya, mas sih makan nya sore-sore melulu.” Kata Mila sambil menyendok nasi.

“Iya mbak, begitulah tugas di luar kantor, mau makan di luar tadi belum selera, di sini makanannya enak saya suka.” Kata Rio sambil mengambil tempat duduk.

“Makan jangan buru-buru mas, santai saja makan ya dinikmati atuh.” Kata Mila dengan ekspresi menggoda meletakkan pesanan makan di atas meja di depan tempat duduk Rio.

“Hehehe… iya mbak, terimakasih.” Jawab Rio sambil menggeser piring nasi itu tepat ke depan tempat duduknya.

“Ini ada tahu goreng lho mas, kalau mas nya mau makan saja, bawa ke sana Mil.” Kata bu Salmah pemilik kantin menawarkan bungkusan gorengan dan menyuruh Mila memberikannya kepada Rio.

Mila mengambil bungkusan gorengan di tangan bu Salmah dan membawanya menghampiri Rio.

“Ini mas cobain saja, tadi ibu membeli gorengan di depan sana, gorengannya besar-besar bikin kenyang sampai nggak habis.” Kata Mila.

“Oh, iya mbak, terimakasih bu.” Kata Rio tersenyum ke arah bu Salmah.

Rio pun makan sambil ngobrol-ngobrol akrab dengan bu Salmah dan Mila, mereka panjang lebar bercerita.

Mila adalah keponakan dari bu Salmah, mereka berasal dari desa dan tinggal di kota itu mengontrak sebuah rumah yang tak jauh dari kantor tempat Rio bekerja.

Bu Salmah dan Mila sama-sama janda, suami bu Salmah telah almarhum sedangkan Mila menjadi janda tiga hari setelah melangsungkan pesta pernikahan.

Mila minta cerai pada suaminya karena ketauan telah mempunyai istri dan anak, sedangkan sebelum pernikahan sang suami mengaku bujangan kepada Mila.

“Mas Rio sudah menikah ?” Tanya bu Salmah di selah obrolan mereka.

“Belum bu.” Jawab Rio sambil mengaduk kopi setelah ia selesai makan. Sore itu ia sedikit santai karena sudah tak ada lagi tugas penting dan telah memberi laporan ke atasan.

“Tunggu apa lagi mas, dunia sudah mau kiamat nanti nggak ngerasain nikah lho mas.” Kata bu Salmah bercanda.

“Hehehe.. iya bu, InsyaAllah.” Jawab Rio tersenyum lalu menyeruput kopinya.

Setelah cukup lama istirahat makan dan ngopi, Rio membayar makannya dan segera kembali ke dalam kantor menemui atasannya.

*****

Pagi itu hujan tak kunjung reda, suasana pun sedikit mencekam. Sesekali petir menggelegar dari langit yang terlihat gelap.

Entah kenapa pagi itu Rio seperti kehilangan semangat untuk bekerja, bukan karena cuaca hujan tapi ada perasaan tak enak dalam dirinya.

Hari itu adalah peristiwa di mana kisah ini akan segera berakhir, Rio sedang bersiap untuk berangkat kerja walau hujan belum juga reda.

“Tinininit…! tinininit…!” Suara Hp Rio berbunyi ketka ia hendak mengenakan jas hujan.

“Assalamualaikum, iya dek tumben pagi-pagi sudah telepon.” Rio mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari Rani.

“Waalaikumsalam, pagi bang, mau berangkat kerja ya bang.” Kata Rani.

“Iya, di sini hujan, ini baru saja mau jalan ke kantor, adek masih tugas atau sudah pulang ke rumah ?”

“Saya lagi di rumah, dari tadi sudah pulang bang, cuma mau kasih semangat buat abang, selamat bekerja, Rani sayang abang, jangan pernah lupain Rani, sukses buat abang, assalamualaikum, daa…” Kata Rani menutup pembicaraan di telepon.

Rio tertegun sejenak, aneh, tak biasanya Rani telepon pagi-pagi dan bicara seperti itu, lalu Rio pun memasang jas hujan dan berangkat menuju tempat kerjanya.

Waktu berputar, dari siang sampai sore hingga waktunya pulang kerja, Rio banyak mengalami kejadian kecelakaan kecil seperti terjatuh, terbentur, dan lain-lain.

Hingga sore menjelang magrib, dalam perjalanan pulang di dalam bus, Rio coba merenung mencari jawaban arti dari semua kejadian yang ia alami seharian tadi, seperti sebuah pertanda.

Dan akhirnya, tibalah jawaban itu. Rio mendapat telepon dari Arman yang mengabarkan berita duka bahwa Rani telah tiada.

Rani mengalami kecelakaan saat mengemudikan mobil untuk mengunjungi rumah orang tuanya.

Langit seakan mau runtuh ketika Rio mendengar kabar itu, jantungnya bagai disambar petir, bathinnya menjerit, hatinya bagai di robek-robek, kekasih yang ia sayangi telah pergi.

Tinggalah ia sendiri dalam duka, tiada lagi seseorang yang ia kasihi seperti hari-hari kemarin, yang tersisa kini hanyalah kenangan.

Tuhan, semua yang kami cintai dan apapun yang kami miliki hanyalah milikmu, tuntunlah jiwa kami selalu ke jalan yang lurus, dan ridhoilah langkah kami dalam menjalani hidup yang telah engkau anugerahkan.”
Amin ya robbal alamin.

– Selesai –

Lanjutan cerita ini akan bersambung pada kisah lain dalam judul Mila

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai