Serigala Penakluk (Bagian 2)

Cerita Fiksi | Oleh : Rudi Skay

Ilustrasi by Rudi Skay

SIAPA lagi kalau bukan dirimu ! sekarang jawab pertanyaanku ! apakah benar kau telah membunuh dan memakan daging kelinci ? Apakah benar kau telah membunuh anjing hutan ? dan apakah benar kau telah berubah menjadi hewan buas yang menggonggong dan melolong sebagaimana seekor serigala ?”

Riko diam dan baru mengerti apa yang sedang terjadi, sejenak ditatapnya sekeliling, seluruh pandangan mata keluarga rusa itu tertuju kepadanya.

“Maafkan aku Ayah, semua itu adalah benar, dan aku baru saja mengalami hari yang melelahkan, sekarang aku terluka dan butuh istirahat untuk memulihkan diri.”

“Jadi semua itu benar ternyata ! sudah kuduga ! sekarang kau harus menerima hukuman yang berlaku di keluarga ini, sekarang juga kau pergi dan keluar dari keluarga ini, engkau tidak boleh lagi berada di sini agar keluarga ini terhindar dari musibah dan kutukan !” Kata raja rusa dengan tegas.

Riko seakan tidak percaya dengan apa yang ia hadapi, hatinya sedih bercampur marah, perasaannya tidak karuan dengan pikiran yang kacau karena kondisinya sudah sangat melemah sementara luka-lukanya terus meneteskan darah.

Riko adalah serigala yang mempunyai jiwa kesatria, jujur dan adil sekaligus kejam, sejatinya ia adalah keturunan raja serigala yang menguasai daratan selatan, tapi takdir harus memisahkan ia dengan keluarga aslinya saat terjadi petaka yang melanda keluarga serigala itu, sekelompok manusia pemburu mengincar raja serigala untuk ditangkap dan diambil keturunannya.

Tapi semua tidak berjalan mulus, sang raja serigala tewas tertembak saat melawan dan mencoba menyerang salah satu pemburu, sedangkan induk serigala yang sedang mengandung Riko di dalam perutnya itu berhasil kabur setelah sempat terkena tembakan.

“Baiklah Ayah, kalau memang itu hukuman yang pantas untukku maka aku akan merimanya, izinkan aku pamit dan mencium kaki ibu dan ayah.”

Setelah singkat berkata Riko melangkah ke arah ibunya dan mencium kaki induk rusa yang telah menyusui dan membesarkannya, setelah itu ia juga mencium kaki ayahnya.

Semua yang ada di ruangan itu melihat dengan haru dan hanya terdiam, setelah pamit pada keluarga itu Riko segera melangkah keluar goa dengan tatapan lurus tajam kedepan, ia tidak mau melihat atau menoleh lagi ke arah keluarganya yang akan membuat hatinya bertambah hancur.

*****

Malam pun tiba, bulan purnama menerangi jalan rumput dan rimba belantara yang terbuka, terlihat Riko terseok-seok berjalan lemah, ia telah cukup jauh berjalan meninggalkan goa dan keluarganya.

Ia tidak tau harus kemana, ia hanya melangkah mengikuti jalan yang ia rasa aman, berkali-kali ia jatuh dan bangkit untuk berjalan, hingga akhirnya ia tidak lagi mampu melanjutkan perjalanan karena kehabisan tenaga dan kekurangan darah, ia pingsan di pinggir sebuah batu besar ditepi hutan.

Suasana di tempat itu cukup sepi dan hanya terdengar bunyi jangkrik hutan yang bersahut-sahut dan sesekali terdengar suara burung malam dari dalam rimba.

“Aaoooongaaaoongong..ngong….!” Suara lengkingan lolong seekor serigala tua yang berada tidak jauh dari tempat dimana Riko tergeletak pingsan.

Ilustrasi by Rudi Skay

Serigala tua itu berwarna hitam pekat, ia muncul setelah mencium bau darah dari radius yang cukup jauh, ia mencari dan mendekati sumber bau darah itu. Bau darah yang ia rasa aneh yang besumber dari luka-luka sekujur tubuh Riko.

Dalam waktu singkat saja serigala tua itu telah menemukan tubuh Riko, ia sempat terkejut melihat apa yang ia temukan.

Setelah memperhatikan dan mengendus sebagian tubuh Riko, serigala tua itu menjilat luka-luka yang ada pada tubuh Riko dan menyeretnya masuk ke dalam rimba.

Serigala tua hitam pekat itu dikenal di kalangan serigala sebagai serigala siluman yang kerap muncul dan menghilang dengan tiba-tiba, ia hidup menyendiri dan tidak tergabung dalam kawanan serigala lainnya.

Sepertinya serigala tua itu tertarik dan kagum melihat Riko, ia bermaksud mengobati luka-luka Riko dan menjadikan Riko sebagai muridnya.

Sudah lama serigala tua itu mencari sesosok murid, dan ia selalu mengamati gerak-gerik semua serigala muda yang ia temui, namun belum ada yang cocok untuk diangkatnya sebagai murid, seiring umurnya yang sudah tua, maka ia berfikir harus ada pewaris semua ilmu yang ia miliki.

Serigala tua itu bernama Zintam, ia dahulu adalah serigala peliharaan seorang pendekar manusia sakti dalam dunia persilatan.

Zintam dilatih dan diajarkan ilmu kesaktian oleh tuannya agar bisa menjadi pengawal dan sebagai mata-mata pendekar sakti tersebut. Namun Zintam harus kehilangan tuannya setelah sang pendekar mengakhiri hidupnya karena sakit dan wafat.

Setelah Zintam bertemu dengan Riko maka ia pun mengobati luka-luka Riko di tempat persembunyiannya di atas bukit batu di tengah rimba.

Hari demi hari pun berlalu, kondisi Riko mulai pulih dan ia banyak menerima petuah ajaran-ajaran spiritual tingkat tinggi, Riko pun dilatih secara fisik cara bertarung dan bertahan dari serangan musuh.

Sebagai latihan, Riko disuruh berburu mangsa yang sulit seperti burung, manangkap ular bahkan di suruh menyelam ke dalam air untuk menangkap ikan.

Dan setiap malam Zintam melatih Riko bertarung, terkadang mereka berlatih seperti dua buah kilat yang berterbangan sambar-menyambar.

Begitulah hari ke hari yang dilalui Riko bersama gurunya Zintam, hingga berlalu satu tahun semua teknik pernafasan dan gerakan-gerakan pertarungan sudah dikuasai secara sempurna oleh Riko.

Hingga suatu hari di waktu pagi yang cerah Zintam berkata kepada Riko yang sedang mengasah kukunya pada dinding batu terjal di atas bukit rimba itu.

“Riko kemari !”

“Iya Guru” Jawab Riko bergegas melesat menghadap gurunya.

“Saya siap menerima perintah guru.” Ucapnya lagi setelah tiba dihadapan gurunya itu sembari membungkukkan badan menjura hormat.

“Hari ini engkau harus turun gunung dan mulailah melakukan pengembaraan, kau harus menguji semua ilmu yang telah kuwariskan, waktumu untuk bersamaku telah usai dan kau harus pergi saat ini segera.”

“Guru…” Kata Riko merendahkan tubuhnya dan menunduk.

“Kau harus menjadi raja di luar sana dan harus bisa menaklukkan setiap siapapun yang menjadi musuh-musuhmu, ingatlah selalu siasat dan strategi peperangan yang telah kuajarkan padamu.”

“Terimakasih Guru, semua pesan guru akan selalu saya ingat, berat rasanya meninggalkan guru di sini, tapi bila ini perintah maka saya mohon diri untuk turun gunung sekarang.”

“Bagus, murid yang baik dan cerdas, sekarang pergilah.”

“Saya pamit dan mohon restunya guru, hormat dan terimakasih saya kepada guru.” Kata Riko kembali menjura hormat membungkuk, kemudian ia membalikkan tubuhnya dan melesat berlari cepat meninggalkan gurunya yang tetap berdiri tegak dengan rumbai panjang di leher yang berkibar-kibar ditiup angin di puncak batu mengawasi Riko hingga menghilang dari pandangan.

*****

Sore menjelang, langit berwarna jingga kemerahan terlihat indah di ufuk barat.

Di suatu tempat di dataran padang rumput hijau yang lapang terbentang luas terbuka, terlihat keanekaragaman makhluk hidup yang tengah beraktivitas dalam mencari makan.

Tiba-tiba terdengar gemuruh di tengah lapangan hijau yang luas itu, terlihat kawanan zebra yang berlarian mengepulkan debu dari tanah lapang yang kering, di sisi lain kawanan jerapah dan hewan lainnya menyingkir ketika terlihat puluhan kawanan anjing hutan tengah dikejar-kejar kawanan serigala.

Telah terjadi pertempuran antara dua kelompok hewan itu, mereka bentrok yang dipicu karena perebutan mangsa dan wilayah.

Kawanan anjing hutan terlihat terdesak dan bertahan mati-matian menghadapi kawanan serigala yang berjumlah lebih banyak.

Seekor anjing hutan berhasil ditangkap dan terkaing-kaing menjerit disiksa kawanan serigala itu, namun semua hewan yang ada disana seketika terdiam heran mendengarkan suara lolongan yang melengking panjang dari arah tepi rimba.

Suara itu keras menggema menggetarkan hati dengan frekwensi dan energi yang tinggi.

Tiba-tiba terlihat bayangan berlari cepat dari sumber suara lolongan tadi ke arah pertempuran yang sempat terhenti di antara kawanan anjing hutan dan kawanan serigala itu.

Dengan cepat telah berdiri di tengah-tengah mereka sesosok serigala besar dengan bulu lebat yang berwarna abu-abu putih.

Serigala besar itu tidak lain adalah Riko, dengan berdiri tegak di hadapan kawanan serigala yang terlihat waspada memperhatikannya lalu ia berkata.

“Hentikan pertempuran kalian !”

Kawanan anjing hutan yang tepat berada di belakang Riko seketika gembira melihat siapa yang muncul di depan mereka.

Jinggo yang selama ini menjadi pimpinan anjing hutan segera berdiri mengambil posisi di samping kiri Riko.

“Hey ! siapa kau beraninya mencampuri urusan kami !” Kata pimpinan serigala itu kepada Riko.

“Namaku adalah Riko, mulai saat ini aku adalah raja kalian.”

“Wow.. keh..keh..keh..keh… huhuhuu… mimpi apa aku semalam sampai-sampai hari ini aku harus sial melihat lelucon badut yang berani melucu di depanku” Kata pimpinan serigala itu setelah tertawa.

Riko hanya berdiri memandang tajam kedepan dengan tenang.

“Hey badut ! bila kau ingin menjadi raja maka kau harus langkahi dulu mayatku atau segera minta ampun padaku dan menjadi anggota pasukanku !” Bentak pimpinan serigala itu

“Dengan senang hati aku akan mengabulkan permintaanmu.” Jawab Riko singkat, lalu dengan gerakan cepat ia melesat melakukan serangan.

Gerakan Riko sangat cepat hingga membuat tubuh pimpinan serigala itu menjadi seperti bola yang berputar-putar tertutup debu yang membentuk bulatan.

Terdengar suara jerit pekik terkaing-kaing dari gumpalan debu yang membentuk bulatan besar itu.

Dalam waktu beberapa menit saja tubuh pimpinan serigala itu telah tergeletak tewas di atas tanah bersimpah darah, dengan tubuh tercabik-cabik dan bulu-bulu yang berserakan.

Semua kawanan serigala yang ada di situ terbelalak dan gemetar menyaksikan apa yang terjadi di depan mata mereka.

“Sekarang ada dua pilihan untuk kalian para serigala, lari dan mati mengenaskan sebagai musuhku atau bergabung sebagai pasukanku, aku akan memimpin kalian untuk menguasai rimba raya, sudah saatnya bangsa serigala dan golongan anjing menjadi penguasa rimba, jawab setuju atau lari sekaraang !!” Teriak Riko keras dengan getaran energi yang menakutkan dan penuh wibawah.

“Setujuuu… ! Hidup raja baru.. !” Sorak-sorai riuh pasukan yang tergabung dari kawanan serigala dan anjing hutan.

“Dengarkan aku baik-baik, mulai saat ini kalian bangsa serigala dan anjing adalah bersaudara, kalian tidak boleh bertikai, kita akan menjadi kuat bila bersatu dan akan ditakuti oleh seluruh makhluk, dan satu hal yang paling penting kalian tidak boleh mengganggu dan memangsa bangsa rusa karena mereka adalah bagian dari keluargaku, bila ada yang berani melanggarnya maka hukuman mati akan menimpanya.”

Sejenak kawanan serigala saling pandang dan sedikit tidak rela bila bangsa rusa tidak boleh dimangsa, karena selama ini rusa adalah salah satu mangsa yang tergolong mudah diburu dan menjadi buruan favorit mereka.

“Bila selama ini kalian sulit dan tidak berani berburu mangsa yang lebih kuat, maka sekarang akan kutunjukkan cara berburu yang mudah dan benar, kalian lihat kawanan kerbau liar di sebelah sana, aku akan memimpin penyerbuan untuk makan besar kita.”

Seluruh kawanan serigala dan anjing hutan itu memandang ke arah kawanan kerbau liar yang berjumlah sangat banyak, tubuh kerbau itu besar-besar dan kekar, selama ini kawanan kerbau itu sangat sulit dan kuat untuk dijadikan mangsa.

Kawanan kerbau liar itu terlihat sedang asik makan rumput dari kejauhan, mereka sedikitpun tidak merasa takut pada bangsa serigala dan bangsa anjing, karena mereka selalu dapat dengan mudah menghalau kawanan serigala ataupun anjing hutan dengan tanduk mereka yang tajam dan tubuh mereka besar kuat.

Riko kemudian memberi intruksi dan arahan kepada pasukannya itu, ia mulai memberikan pola strategi dan siasat penyerangan yang akan mereka jalankan.

Setelah beberapa saat Riko memberikan arahan maka ia memerintahkan pasukannya itu membentuk formasi serangan.

“Apa kalian siap sekarang ?!” Kata Riko mulai memberikan aba-aba.

“Siaap !!!” Jawab kawanan itu serentak.

“Maju dan serbuu… !!” Teriak Riko sambil berlari cepat diiringi ratusan pasukannya yang berlari mengikutinya dari belakang.

Terjadilah pemandangan yang menegangkan saat itu, terlihat puluhan kawanan serigala berbaur dengan anjing hutan dengan cepat berlari ke arah kawanan kerbau liar yang masih tenang makan rumput di sisi tepi lapangan hijau luas itu.

Kawanan serigala dan anjing hutan memecah dan membentuk formasi terpisah menjadi empat kelompok yang mengepung kawanan kerbau liar itu.

Kawanan kerbau mulai gusar saat menyadari adanya serangan yang tiba-tiba, mereka berhamburan mencoba menyelamatkan diri dan membuat pertahanan.

Tetapi kawanan kerbau itu hanya bisa berputar-putar karena telah terkepung dan masih ragu untuk menerobos kawanan serigala dan anjing hutan yang yang membentuk pagar berlapis.

Di saat itulah Riko melesat masuk ke tengah kawanan kerbau diikuti pasukan serigala dan anjing hutan yang dipilih sebagai eksekutor pembantaian.

Satu persatu kerbau liar itu dilumpuhkan setelah melewati pertarungan sengit pada beberapa saat.

“Cukuup ! buka barisan dan biarkan mereka yang masih hidup kabur !” Kata Riko keras memberi komando.

Maka seketika kawanan serigala yang mengepung kerbau itu berlari kesamping dan membentuk satu kelompok. Melihat celah kepungan terbuka lebar, puluhan kerbau yang masih hidup segera berlarian berhamburan, mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyelamatkan diri dan kabur.

Setelah kawanan kerbau itu berlari kabur menjauh, yang tersisa di tempat itu hanyalah puluhan ekor kerbau liar yang terkapar tewas dikelilingi kawanan pasukan serigala dan anjing hutan, mereka bersorak-sorai bergembira dalam pesta makan besar menikmati kemenangan.

Bersambung ke Bagian 3

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai