Mario (Bagian 2)

Cerita Bersambung – Karya Rudi Skay – Serial Mario industri Bagian Ke-2

TERIK sinar matahari menembus celah-celah dedaunan dari rimbunnya pepohonan di hutan siang itu.

Suara-suara hewan rimba bersahut memecah keheningan melantunkan irama kehidupan di alam liar.

Suasana alam yang terasa damai dengan pemandangan hijau yang menyegarkan mata.

Seseorang terlihat sedang menyusuri jalan setapak di tengah hutan itu. Dia tidak lain adalah Mario, entah seberapa jauh dia telah melakukan perjalanan.

Raut wajahnya tampak lelah dan kurang tidur, langkahnya gontai dan berulang kali terjerembab jatuh lalu kembali bangkit melangkah. Tapi memang wataknya yang tidak kenal lelah dan semangat juang yang keras membuat ia tidak pernah menyerah oleh keadaan.

Mario menghentikan langkahnya setelah melihat aliran sungai kecil yang ia temui di depannya.

Sungai kecil itu begitu jernih, dan airnya sangat sejuk dan segar. Tanpa diberi aba-aba, Mario dengan cepat meraup meminum air itu dengan kedua tapak tangannya, lalu membasuh wajah dan seluruh kepalanya.

Setelah terpuaskan dahaganya, Mario lalu duduk di atas sebuah batu besar untuk istirahat sejenak.

Ia seperti ingin menikmati suasana sekitar, dilihatnya sekeliling, dadanya mulai terasa sesak.

“Uhuukh..! uhuukkh..! Dan ia pun kembali batuk-batuk.

Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang mengintai dan mengawasi geraknya sejak tadi dari balik rimbun semak dan pepohonan.

Mario merogoh sakunya dan mengeluarkan bungkusan pil obat untuk meringankan sesak di dadanya. Di saat ia tengah meneguk dan menelan pil obat itu, keluarlah sosok yang sejak tadi mengawasi dan berjalan menghampirinya.

Mario menoleh dan melihat sosok seorang lelaki yang berjalan mendekatinya.

Lelaki itu berambut panjang sebahu, menyandang sebuah senapan dan beberapa pisau besar dipinggangnya.

Sejenak mereka saling mengamati.

“Siapa saudara ? dan sedang apa saudara berada di sini ?” Tanya lelaki tersebut kepada Mario.

Mario coba mengamati wajah lelaki itu, rasanya ia masih bisa mengenali lelaki tersebut walau wajah itu sudah banyak mengalami perubahan.

Lelaki itu adalah Luik. Sahabat yang sedang ia cari dan ingin ia temui di hutan itu.

“Luik ?!” Apakah benar engkau ini Luik ??” Mario berkata dengan raut wajah bahagia.

“Siapa saudara ? maaf saya hampir tidak dapat mengenali saudara, iya benar saya Luik.”

“Ini saya Mario, masih ingatkah kau siapa sahabatmu dulu ?” Mario berkata sedikit bergetar dengan tatapan mata berlinang.

“Mario ? Engkau Mario ? Ya ampun, apa yang terjadi padamu kawan ? hingga engkau jadi begini rupa.”

Mereka berpelukan dan saling berjabat tangan erat.

“Selamat datang di tempatku, tidak kusangka kita bisa bertemu lagi Mario, mari sebaiknya kita ngobrol sambil ngopi di posko saya saja, di sini kurang aman karena tempat ini adalah perlintasan hewan-hewan buas yang sebentar lagi muncul untuk mandi dan minum.”

Merekapun akhirnya beranjak meninggalkan tempat itu dan melangkah menyurusi jalan setapak di tengah hijaunya belantara dan pohon-pohon besar.

*****

Setelah cukup jauh Mario dan Luik berjalan, tibalah mereka di sebuah tanah lapang dan gerbang yang terbuat dari barisan pohon-pohon yang kokoh.

Luik membuka gerbang itu, dan Mario sedikit terkejut dengan pemandangan yang ada di depan matanya.

Terlihat tumpukan batu-batu kecil sebagai jalan menuju sebuah bangunan yang berdiri kokoh, sebuah rumah yang unik, dengan bentuk sederhana semi permanen namun rapi. Bagian bawah terbuat dari batu dan lantai semen, dinding dan tiang terbuat dari kayu hutan dan papan yang keras.

“Waah.. baru kali ini saya melihat bangunan seperti ini, apakah engkau yang membangunnya sendiri Luik?” Tanya Mario sambil mengamati sekeliling.

“Oh, tentu tidak Mario, saya meminta tolong beberapa orang arsitek untuk membangunnya, tempat ini juga sering dikunjungi teman-teman dari dinas perhutanan apabila mereka survey lingkungan, karena hutan dan bukit ini adalah kawasan hutan lindung, dan saya bekerja sama dengan mereka.”

Luik pernah bekerja di pemerintahan sebagai dinas perhutanan, ia disegani dan dikenal sebagai orang yang selalu perduli lingkungan dan selalu mempunyai terobosan bagus untuk kelestarian hutan-hutan tandus.

Karena merasa kurang nyaman ditempatkan di bagian administratif maka ia mengajukan diri pada pihak pemerintah untuk pensiun dini dan tinggal di hutan. Menimbang jasa-jasanya pada pemerintah cukup besar untuk kelestarian hutan lindung, maka pemerintah mengabulkan permintaannya dan memberikan hak guna lahan dan Luik dipercaya sebagai penjaga di hutan lindung tersebut.

“Waahh.. luar biasa.” Jawab Mario kagum melihat sahabatnya itu. Beberapa saat kemudian merekapun masuk ke dalam rumah itu.

Kanan-kiri bangunan terdapat halaman cukup luas yang di kelilingi pagar kawat sederhana. Ratusan unggas peliharaan bercampur dengan ternak lainnya terlihat di sana. Ada ayam, itik, kambing, kelinci dan sebagainya. Sedangkan di belakang bangunan terdapat kebun sayur-sayuran dan buah-buahan.

“Engkau pasti lapar Mario, saya tadi memangang ayam dan memasak sayur, apakah engkau suka ?”

“Sangat suka, dari dulu selera kita tidak jauh berbeda Luik.” Jawab Mario. Lalu mereka menuju ke dapur bangunan itu untuk makan bersama.

Waktu terus berputar, beberapa jam berlalu, mereka telah selesai makan dan terlihat sedang duduk-duduk di teras bangunan sambil minum kopi.

“Sepertinya dirimu bahagia dan sehat hidup di hutan ini Luik, apakah engkau tidak risau bila ada gangguan dari binatang buas atau orang-orang yang berniat jahat ke sini ?” Tanya Mario yang masih penasaran melihat sahabatnya itu betah hidup menyepi di hutan.

“Di sini justru lebih aman Mario, saya lebih memilih berteman dengan hewan sekalian daripada berteman dengan manusia tapi berakhlak hewan, di sini bebas, makhluk di sini menggunakan insting dan naluri yang tidak sembarangan, saya tidak pernah melarang hewan buas untuk memakan unggas di sini karena ada rejeki mereka juga di situ, sedikit banyak saya telah mengenali sifat-sifat hawan liar di sini dan sebaliknya mereka mengenal saya sebagai orang yang tidak suka membuat mereka celaka.”

“Waw.. begitu ternyata, lalu darimana pundi-pundi uang bisa kau dapatkan di sini Luik ?”

“Seperti yang engkau lihat, saya bercocok tanam, beternak, setiap bulan atau beberapa minggu sekali saya turun bukit ke pasar untuk menjual hasil tanam dan ternak, serta membeli beberapa kebutuhan.” Jawab Luik.

“Oh, begitu, uhuukh.. uhuukh ! Kata Mario sambil batuk-batuk.

“Sepertinya dirimu mengalami penyakit dalam Mario, sudah berapa lama engkau batuk-batuk seperti itu ?”

“Sudah hampir tiga tahun saya begini, dokter memvonis kalau saya terkena paru-paru dan penyakit komplikasi lainnya, tapi saya tidak perduli dan tidak dapat berbuat banyak Luik.”

“Engkau tinggalah di sini sampai penyakitmu sembuh Mario, saya akan bantu dengan ramuan tradisional tumbuhan hutan, bila perlu kita cek secara rutin penyakitmu ke kota menemui dokter spesialis.”

“Ah, engkau begitu baik Luik, saya sungguh berterimakasih dan tidak enak hati untuk merepotkanmu.”

“Jangan sungkan, pastilah ada sesuatu masalah serius yang membuatmu datang ke hutan ini Mario.”

Mario pun akhirnya menceritakan panjang lebar semua yang ia alami kepada sahabatnya itu.

“Hmm.. berat..” Gumam Luik.

“Apanya yang berat Luik ?” Tanya Mario.

“Persoalanmu cukup berat dan kompleks Mario, saya tidak suka menasehati siapapun kecuali engkau sendiri yang meminta pandanganku Mario.”

“Saya butuh pendapat darimu Luik, sepertinya ada sesuatu yang salah pada diriku, saya harap engkau mau memberikan pandangan yang dapat menyelesaikan persoalan dan mencairkan kebekuan dalam pikiranku Luik.”

“Santai saja Mario, nikmatilah dulu kopimu, semua akan baik-baik saja, mari bersulang untuk pertemuan kita.”

Bersambung ke Bagian 3

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai