Nenek Misterius dan Lima Murid (Bagian 1)

Cerita Bersambung – Karya Rudi Skay – Serial Nenek Misterius dan Lima Murid Bagian Ke-1

SAUDARA ERIK ! untuk menekan anggaran operasional di perusahaan ini, maka kami sebagi pimpinan memutuskan untuk mengurangi tenaga karyawan di kantor ini, mulai besok saudara boleh istirahat di rumah dan status saudara sudah bukan lagi karyawan di perusahaan ini, kami mengucapkan terimakasih untuk kerjasamanya selama bekerja di sini, maaf atas situasi yang terjadi dan ketidak nyamanan ini.”

Masih terngiang kata-kata itu di benak seorang pemuda yang sore itu tengah duduk merenung di teras depan rumah kayu berdinding papan, tampak pula secangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas di atas meja bundar di depannya. Seminggu sudah dia tidak lagi datang ke perusahaan tempatnya bekerja.

Pemuda itu bernama Erik, usianya 28 tahun. Sudah setahun lebih ia merantau ke kota dan tinggal bersama keluarga abangnya. Awalnya dia ingin mandiri untuk mengontrak sebuah rumah atau kost, tapi abangnya meminta ia tinggal bersama saja, agar bisa membantu pekerjaan di rumah abangnya itu.

Erik berasal dari sebuah desa, setelah kedua orang tuanya tiada ia memutuskan pergi dari desa dan memberikan warisan harta orang tuanya itu untuk adik-adik perempuannya yang telah menikah.

Di desanya Erik dikenal sebagai pemuda yang baik, suka menolong dan sedikit pendiam.

Setelah merantau ke kota, ia bekerja di sebuah perusahaan sebagai karyawan di bagian IT (Informasi Teknologi), ia banyak menemukan kejanggalan di tempat ia bekerja.

Pada dasarnya dia adalah pemuda jujur, hingga suatu hari ia menemukan data-data yang selama ini merugikan perusahaan. Ia pun melapor ke manager soal temuannya itu, tapi tidak disangka data itu adalah permainan kotor sang manager untuk korupsi.

Sang manager tentu saja tidak ingin kebusukannya terbongkar ke atasan, lalu ia mengatur siasat untuk menyingkirkan Erik, maka dibuatlah sebuah skenario untuk menyingkirkan Erik. Usaha sang manager pun berhasil, pimpinan perusahaan pun setuju usulan sang manager untuk memecat Erik, dan akhirnya dengan mudah Erik dipecat dari tempatnya bekerja.

Di sela lamunannya, sebatang rokok yang sejak tadi terselip di jarinya coba ia nyalakan, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara batuk-batuk dari arah pagar kayu di depan rumahnya, tampak seorang nenek tua yang berjalan tertatih memasuki pagar rumah itu lalu berjalan menghampirinya.

Nenek itu berkerudung kain hitam yang hampir sebagian menutupi wajahnya, tampak seperti gembel atau gelandangan dengan pakaian serba hitam lusuh penuh tambalan.

“Cung.. tolong sedekahnya, nenek belum makan.” Si nenek menyapa Erik dengan suara sedikit serak.

Erik sedikit waspada dan melirik ke arah si nenek, sejenak dia memperhatikan gerak si nenek, dia sempat berfikir apakah nenek itu orang waras atau orang stress yang sakit jiwa, kemudian Erik pun merogoh kantongnya dan mengeluarkan selembar uang pecahan 2000 rupiah.

“Ini nek, ambilah.” Kata Erik sambil mengulurkan tangan memberikan uang itu pada si nenek.

“Terimakasih cung.” jawab si nenek mengambil uang yang diberikan Erik.

Sesaat si nenek memperhatikan uang itu bolak-balik lalu berkata.

“Nenek mau numpang duduk sebentar di sini, kaki nenek sakit dari tadi berjalan, boleh ya cung ?”

“Silahkan, duduk saja nek.” jawab Erik.

“Terimakasih cung.” Kata si nenek yang sedikit tertatih menghampiri sebuah tempat duduk yang ada di depan Erik.

Erik pun menyeruput secangkir kopi yang ada di depannya sambil memperhatikan si nenek.

“Seandainya nenek ada uang untuk makan seminggu, ingin rasanya nenek istirahat, uhhuk.. uhhukk..!” Kata si nenek sambil batuk-batuk.

Sejenak ada rasa iba bercampur rasa tidak nyaman di hati Erik. Kemudian dia pun berkata pada si nenek yang tertunduk diam sambil mengurut-urut kakinya.

“Saya coba lihat makanan di dalam rumah nek, mungkin ada sedikit makanan yang bisa nenek makan.”

“Makanan apa cung ?” Jawab si nenek.

“Mungkin masih ada nasi di dalam nek.”

“Memangnya siapa yang masak ? Istrinya ya ?” Si nenek pun bertanya.

“Bukan nek, yang masak nasi di rumah ini adalah istri abang saya, di sini saya menumpang tinggal bersama abang saya nek.”

“Oh begitu, nama kamu siapa cung ? jadi kamu mau bersedekah nasi punya kakakmu, nenek tidak mau begitu, belum tentu kakak iparmu yang masak nasi itu ikhlas nanti, kalau kamu mau sedekah berilah sesuatu yang benar-benar hak dan milikmu sendiri, jangan punya orang lain kamu berikan ke orang lain lagi, apa namanya itu.” Kata si nenek ketus.

“Nama saya Erik nek”. Jawabnya lalu terdiam sejenak. Dia pun coba menghisap rokoknya sambil mencerna kata-kata si nenek.

Ini nenek aneh, tapi apa yang diucapkan si nenek ada benarnya juga. Katanya dalam hati.

Erik berfikir sejenak, lalu ia pun teringat memiliki beberapa handphone yang tidak terpakai miliknya di dalam rumah. Yang ada dalam pikirannya adalah memberikan sebuah Hp sebagai sedekah pada si nenek karena kasihan.

“Tunggu sebentar nek, ada sesuatu buat nenek”. Ujarnya lagi lalu berdiri dari tempat duduknya. Si nenek hanya diam memperhatikan Erik melangkah membuka pintu rumah dan masuk ke dalam.

Tidak lama kemudian, Erik keluar rumah dengan membawa sebuah Hp.

“Ini nek, ambilah buat nenek, Hp ini bisa dijual buat nenek beli makanan dan istirahat beberapa hari.” Erik berkata sambil memberikan Hp itu kepada si nenek.

“Waah,, hehehe.. asyiik.. nenek belum pernah pakai Hp yang begini cung.” Jawab si nenek senang dengan tertawa kecil senyum-senyum.

“Ambil dan jual saja nek, Hp itu masih laku 300 ribu.” Kata Erik sembari duduk dan meminum kembali kopi di depannya, kemudian dia pun membiarkan si nenek asyik mencoba-coba Hp yang telah diberikannya.

“Waah.. Kalau Hp ini terjual nenek bisa libur ngemis seminggu ini cung, hehehe…” Si nenek girang sambil tertawa kecil.

Sejenak mereka pun tampak sibuk bermain Handphone masing-masing. Sesekali si nenek melirik Erik yang tengah menyentuh-nyentuh layar Hp dengan jarinya.

“Hp yang kamu beri ke nenek ini Hp darimana cung ? Hp curian ya ?” Tanya si nenek.

Erik menoleh ke si nenek lalu menjawab. “Bukan nek, itu Hp milik saya sendiri, setelah saya berhenti kerja minggu kemarin saya coba bisnis kecil-kecilan nek, Jual beli Hp bekas secara online.”

“Oo.. Berarti ini Hp bahan daganganmu ya cung ?”

“Iya nek, tapi tidak apa-apa, anggap saja saya sedekah, semoga rejeki saya lancar dan nenek bisa istirahat dengan menjual Hp itu.”

“Cung, nenek tak mengerti pakai Hp ini, itu Hp yang kamu pakai bagusan mana dari Hp yang nenek pegang ini ?” Tanya si nenek.

“Kalau lebih bagus tentu Hp yang saya pakai ini nek, Hp yang saya beri itu kan buat nenek jual saja biar bisa makan.” Jawab Erik.

“Nenek tidak mau cung, kalau begini namanya sedekahmu tidak iklhlas, kalau mau sedekah itu berilah yang terbaik, memberi orang itu jangan yang jelek di antara yang bagus milikmu, berilah yang bagus cung.” Protes si nenek.

Erik tampak terperangah bingung, sedikit heran bercampur kesal pada si nenek.

Nenek itu pun berkata lagi. “Ini Hpnya nenek kembalikan saja, nenek minta air minum saja cung, nenek dari tadi haus tak kamu tawarkan minum !” Kata si nenek sambil meletakkan Hp itu di atas meja di depan Erik.

“Waduuuh…” Erik berkata dalam hatinya. Ini nenek benar-benar bawel dan mulai menyebalkan. Sudah menggangu santainya dan banyak permintaan pula.

“Sebentar saya ambilkan air minum nek.” Erik pun berdiri dan masuk ke dalam rumah.

Tak sampai satu menit dia pun kembali membawa air minum dengan cangkir plastik besar berwarna biru.

“Ini nek, minumlah.” Kata Erik sambil menaruh air minum itu di meja depan si nenek.

“Kamu mau nyuruh nenek kembung minum air secangkir besar begini cung ?” Kata si nenek.

“Bukan nek, jangan pula diminum semua nek, dari pada air minumnya nanti kurang, dan saya tak ingin mondar-mandir mengambil air ke dalam rumah.” Erik menjelaskan.

“Oh terimakasih cung kalau begitu.” Si nenek pun mengambil cangkir besar itu dan meminumnya beberapa teguk lalu meletakkan cangkir itu kembali di atas meja.

“Hpnya ambil saja lagi nek, simpan saja sudah jangan dikembalikan, saya ikhlas.” Erik coba meyakinkan agar si nenek mengambil Hp di atas meja itu dan berharap si nenek lekas pergi dari tempatnya.

“Ikhlas katamu cung ? yang namanya ikhlas bukan begitu.” Jawab si nenek.

“Lalu maunya seperti apa nek ? saya kan sudah berbaik hati coba menolong nenek.” Kata Erik mulai agak tegas karena mulai kesal.

“Iya, terimakasih cung, Hp itu kamu simpan lagi saja, maafkan nenek sudah ngerepotin, nenek ini sudah tua, sebentar lagi mati, nenek ada di sini karena kamu orang baik, nenek cuma memberi nasehat. Kamu tak perlu kesal dan marah karena terganggu, dan kamu tak harus memaksakan diri bersedekah dengan harta yang kamu sayangi.” Si nenek bicara pelan menjelaskan.

Erik berfikir sejenak sambil garuk kepala mendengar ucapan si nenek. Dia pun terdiam. Apa yang diucapkan si nenek semuanya benar.

“Lalu sekarang bagaimana nek, menurut nenek yang baiknya seperti apa ? Hp yang saya beri itu kan bisa nenek jual buat makan dan nenek bisa istirahat beberapa hari, kalau saya ambil lagi nenek malah tak dapat apa-apa jadinya.”

“Ikhlas itu adalah ketika kamu tak takut melepas sesuatu yang paling kamu sayangi, bila kamu mau sedekah, berikan ke nenek hp yang kamu pakai itu, itu baru namanya ikhlas, kalau kamu masih ngotot bersedekah dengan Hp yang di meja itu nenek tak mau terima. Dan nenek akan permisi pergi dari sini cung, nenek terima kasih sudah dibolehkan singgah di sini, dan nenek menghargai niat baikmu yang mau bersedekah walau kurang ikhlas, tapi tetap nenek tak mau terima Hp di meja itu.”

Erik mulai berfikir lagi, dia coba mengambil rokok dan menyalakannya. Dalam hatinya semua nasehat si nenek cocok dengan prinsip dalam pikirannya. Dia seperti sedang diuji. Antara mempertahankan prinsip dan kenyataan hidup.

Bimbang, asap rokok pun mulai mengepul seperti asap kereta api yang keluar dari mulutnya, karena keras berfikir mengambil sikap dan membuat sebuah keputusan yang tepat.

Dia menimbang kembali, selama ini dia tak pernah takut kehilangan semua barang yang dia miliki, karena prinsipnya semua yang ada adalah titipan tuhan untuknya, bahkan kehilangan pekerjaan pun minggu kemarin dia rela karena tempat dia bekerja bertentangan dengan prinsipnya. Kebaikan itu terkadang terlihat seperti bodoh yang sering dimanfaatkan orang jahat.

“Cung, sepertinya sudah cukup nenek di sini, nenek mau permisi.” Seketika si nenek memecah kebisuan dan lamunannya.

“Sebentar nek, duduk saja dulu.” Jawab Erik sambil kemudian dia membogkar tutup belakang Hp miliknya, dengan maksud hendak mengeluarkan kartu sim dan memberikan Hp yang ia pakai pada si nenek.

Setelah memindahkan kartu sim dari Hp satu ke Hp yang satunya lagi. Erik menyerahkan Hp yang biasa ia pakai kepada si nenek dan berkata. “Ini nek, ambilah Hp kesayangan saya, biarlah saya pakai Hp yang satu lagi itu, masih bagus kok buat dipakai.”

“Naah, ini baru ikhlas namanya cung, hehehe….!” jawab si nenek tertawa kecil sambil mengambil Hp yang diberikan Erik.

“Iya nek, terserah mau nenek jual buat beli makanan. Hp itu masih laku di jual satu juta nek.” Jawab Erik dengan raut wajah sedikit sendu, mencoba merelakan barang kesayangannya berpindah tangan.

“Heeheehe… hehehehe…!” Si nenek tertawa panjang persis tertawa nenek sihir. Lalu ia berkata keras kepada Erik. “Baru ini nenek ketemu pemuda bodoh yang dengan mudahnya memberikan Hp secara gratis. Hehehehe…!”

“Astagrfirullahuladzim..” Jawab Erik sambil mengusap mukanya. Dia seperti berperang melawan bathinnya sendiri. Di satu sisi dia konsisten dengan prinsipnya, dan di sisi lain dia seperti telah bertindak bodoh.

Si nenek melihat Erik tampak diam sayu membisu, lalu si nenek pun berkata. “Jangan sedih cung, nenek cuma bercanda, kamu boleh ambil lagi Hp ini bila merasa bodoh dan menyesal.” Si nenek mengulurkan tangannya mencoba megembalikan Hp itu kepada Erik.

“Sudah nek, Hp itu sekarang milik nenek. Barang yang telah saya beri tak mungkin saya ambil lagi, simpan saja nek.”

“Kalau kamu yakin ya baiklah, Hp ini nenek simpan dengan ucapan terimakasih, tapi Hp ini tak ada kartu sim ya cung ?” Timpal si nenek bertanya.

“Iya nek, memangnya kenapa ? apakah Hp itu buat nenek pakai ?”

“Bukan, nenek baru ingat kalau nenek punya nomor telpon murid nenek, bisakah nenek minta tolong lagi untuk telpon nomor tersebut dari Hp kamu ? Hp kamu kan ada kartu sim nya ?” Si nenek menegaskan kata-katanya.

“Ya baiklah, mana nomornya nek, biar kita coba telpon.”

Si nenek kemudian merogoh saku di balik bajunya dan mengeluarkan selembar kertas yang berisi nomor telpon.

“Ini nomornya !” Kata si nenek.

Erik kemudian mengambil kertas itu dan memperhatikan nomor telpon di kertas itu. Terdapat sebuah nomor telpon tanpa nama. Erik kemudian bertanya pada si nenek. “Nomornya tidak tertulis nama di kertas ini nek ?”

“Telpon saja jangan banyak tanya ayo telpon sekarang ! Itu murid nenek dan dia adalah orang baik sepertimu.” kata si nenek lagi.

Erik pun mengambil Hp di atas meja yang tadi di isi kartu sim, kemudian mencoba menghubungi nomor di kertas itu.

Setelah beberapa kali dihubungi, nomor itu aktif tapi aneh tidak ada jawaban, Erik pun berkata pada si nenek.

“Nomornya tak ada jawaban nek, sepertinya lagi sibuk tak ada yang angkat telponnya.”

“Ya sudah, kalau begitu.” Jawab Si nenek

Erik menyerahkan kembali kertas itu kepada si nenek.

“Mulai sekarang kamu telah kuangkat sebagai muridku, dan kamu adalah muridku yang ke lima, kelak kalian akan bertemu dan banyak membantu orang-orang yang susah.” Si nenek kemudian memasukkan kertas itu ke saku di balik bajunya.

“Tapi nek, ilmu apa yang akan nenek ajarkan, kalau ilmu sihir saya tak mau jadi murid.” Kata Erik bertanya.

“Dasar murid bodoh, apakah aku terlihat seperti tukang sihir di matamu ? kau akan tau nanti, jangan banyak bertanya, tetaplah pertahankan prinsip baik dalam keseharian hidupmu walau kadang mengecewakan, semua itu hanyalah permainan hidup. Sekarang nenek mau permisi pergi dulu, Hp pemberianmu ini nenek bawa.” Kata si nenek sambil menunjukkan Hp yang diberikan Erik tadi lalu memasukkannya ke dalam kantong.

“Iya nek, hati-hati saja di jalan.”

“Baiklah, terimakasih cung.” Si nenek kemudian mengambil sesuatu di balik bajunya.

“Sebelum nenek pergi pakailah ini sebagai pemberian dari nenek.” Si nenek melempar sebuah gelang kepada Erik.

Erik menangkap dan memperhatikan gelang yang dilempar si nenek, sebuah gelang berwarna hitam yang terbuat dari kulit.

Erik kemudian memandang ke arah si nenek dan baru menyadari si nenek sudah hilang dari pandangannya ketika matanya tadi sibuk memperhatikan gelang itu.

Erik berjalan keluar pagar mencoba melihat si nenek ke arah jalan, tapi tak ada siapapun dilihatnya

Setelah nenek itu pergi, Erik kembali duduk di balai dan menghabiskan kopinya yang telah tersisa sedikit dan mulai dingin.

Dia pun coba memasang gelang pemberian si nenek, sambil menggerak-gerakkan tangan seperti melihat apakah gelang itu terlihat bagus di pakai. Tapi betapa kaget dan terkejutnya dia ketika melihat Hp yang tadi diberikannya pada si nenek ada di atas balai di samping tempatnya duduk.

Dia pun mengambil dan memperhatikan Hp itu dengan penuh heran, benar itu Hp yang telah diberikannya ke si nenek. Tapi kenapa bisa ada lagi di sini ? Pikirnya. Kalau Hp ini tertinggal tak mungkin, karena tadi si nenek seperti sengaja memperlihatkannya sebelum pergi dan memasukkannya ke dalam kantong.

Siapakah nenek itu sebenarnya, apakah si nenek tadi hanya datang mengujinya saja. Erik penasaran dengan berbagai pertanyaan yang ada di kepalanya.

Bersambung ke Bagian 2

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai