
Erik terdiam memandangi Handphonenya yang terbakar hangus di tanah, Begitu kuatnya muatan arus listrik yang tersalur ke Hpnya itu. Erik lalu memandangi kartu sim yang berhasil ia selamatkan di tangannya, kemudian ia mengambil salah satu Hpnya yang lain di dalam rumah, sebagai ganti Hp yang telah terbakar. Tak lama setelah ia memasang kartu sim pada sebuah Hp. Hp itu pun kemudian berbunyi.
“Tilililit… tilililit…!”
Dilihatnya ke layar Hp itu, yang ternyata panggilan masuk dari pak Samsul.
“Ya Hallo pak.” kata Erik mengangkat Hpnya.
“Bagaimana kondisimu Erik ? Apakah sudah membaik ?”
“Syukurlah pak, sepertinya saya sudah kembali sehat.” Erik menjawab.
“Baguslah kalau begitu, maksud saya begini Erik, apabila kamu sudah pulih dan berminat memimpin perusahaan cabang itu, ada baiknya kamu survey dulu kantornya, soal kapan kamu mau diresmikan dan kapan mulai kerja itu terserah kamu saja, bagaimana ?”
Erik menimbang sejenak lalu menjawab.
“Baiklah pak, kalau memang tugas itu dibutuhkan secepatnya saya akan mencoba.”
“Apakah kamu siap dan bisa survey hari ini Erik ?”
“Kebetulan waktu saya luang hari ini pak.”
“Ok, saya senang mendengarnya, saya akan kirim alamat perusahaan itu ke kamu, dan itu adalah perusahaan yang akan kamu pimpin Erik, Hubungi saya bila ada masalah ketika kamu sudah disana nanti.”
“Baik pak, terimakasih atas kepercayaan dan tugas yang bapak berikan kepada saya.”
“Bagus Erik, alamatnya akan saya kirim sekarang, selamat bertugas, semoga suskses.”
Erik menghela nafas setelah pembicaraan di telpon selesai. Tak beberapa lama setelah itu masuk pesan dari pak samsul di Hpnya.
Erik membuka pesan itu dan ia melihat sebuah alamat yang dikirimkan oleh pak Samsul di Hpnya, sesaat ia memperhatikan alamat itu, sepertinya alamat dan nama perusahaan yang ada di pesan itu ia kenali, itu adalah alamat dan perusahaan bekas tempat ia bekerja.
Sungguh dunia ini serasa sempit, Erik tak menyangka akan kembali kesana. Selama ini ia telah mengetahui kebobrokan pada system atau pun data-data perusahaan yang banyak diselewengkan oleh manager dan beberapa karyawan lain di perusahaan itu. Pantas saja perusahaan itu kini mengalami sakit dan terancam bangkrut.
Tapi semua masalah itu sementara ini akan ia rahasiakan dulu sampai ia mendapatkan bukti otentik untuk dapat menjelaskan kepada pak Samsul, bila bicara tanpa bukti sama saja ia seperti menebar Hoax. Maka ia pun masuk kedalam rumah dan bersiap pergi mendatangi perusahaan itu.
*****
Setelah beberapa waktu berlalu sampailah Erik di depan gedung perusahaan itu, ia melangkah ke lobby dan hendak memasuki pintu masuk, di kanan dan kiri pintu kaca berdiri dua orang security yang sejak tadi memperhatikan kedatangannya, mereka masih mengenali Erik yang pernah bekerja di situ.
“Selamat siang mas Erik, apa ada yang bisa kami bantu ? mau kemana mas Erik ini ?!” Kata seorang security di pintu sebelah kanan menghadang Erik masuk.
“Maaf pak, saya mau masuk ke dalam, saya ada urusan di dalam.” Jawab Erik tenang.
Beberapa staf dan karyawan yang kebetulan keluar masuk di pintu itu sempat melirik ke Erik dengan wajah sinis. Mereka melihat Erik yang sedang bicara dengan security, mereka mengenali Erik. Sambil berjalan mereka berbisik bahkan ada yang berkata sesama mereka, “Masih untung tak dilaporin ke polisi, eh masih berani datang ke sini.” Bisik-bisik mereka memasuki gedung itu.
Sepertinya nama Erik di perusahaan itu sudah tercemar, ia telah digosipkan dipecat dari perusahaan karena telah melakukan korupsi. Dan kabar itu tersebar ke seluruh karyawan sejak ia berhenti kerja.
“Anda tidak kami izinkan untuk masuk, karena anda bukan karyawan dan staf di sini.” Kata security yang di sebelah kiri Erik berbicara dengan tegas.
“Maaf, tolong jangan halangi saya masuk. Saya ada urusan penting di dalam.” Kata Erik masih bersikap tenang.
“Ada urusan apa anda mau masuk kedalam.” Kata security itu masih berikeras tak mengizinkan Erik masuk.
“Urusan saya ini menyangkut pekerjaan kalian juga, bila saya tak bisa masuk saat ini maka kalian besok mungkin sudah tak bekerja lagi di sini.”
Security itu bingung dan saling pandang antara mereka.
“Begini saja, satu dari kalian ikut dan kawal saya ke dalam, yang satu lagi tetap jaga di sini.” Kata Erik tenang namun tegas.
Kedua security itu setuju. Dan itu keputusan yang tepat menurut mereka.
“Baik, biar saya yang menemani mas Erik kedalam.” Jawab salah satu dari security itu.
Erik pun melangkah masuk dikawal seorang security. Semua staf dan karyawan memandang heran dan penuh tanya ketika Erik menyusuri seluruh gedung itu dari lantai bawah sampai ke lantai lima menuju ruang pimpinan.
Erik berhenti ketika sampai di depan pintu sebuah ruangan. Ruang itu adalah ruang direktur yang berada di lantai lima.
Pintu itu sedikit terbuka dan terdengar beberapa orang sedang berbicara di dalam ruangan. Sementara beberapa staf yang ada di luar ruangan memandang ke arah Erik dari meja kerja mereka.
“Tok.. tok.. tok !” Erik mengetuk pintu ruang pimpinan.
Seketika suara orang yang bicara di dalam ruangan itu diam dan memandang ke pintu.
“Masuk.” Terdengar suara orang berkata dari dalam.
Erik pun membuka pintu dan masuk bersama security.
Di ruangan itu ada lima orang yang sepertinya sedang mengadakan rapat kecil, mereka semua memandang Erik dengan heran. Pimpinan pun tampak terkejut dan berdiri dari bangku direktur yang ia duduki.
“Ada apa kamu lancang datang dan masuk keruangan ini !” Kata sang pimpinan berkata keras kepada Erik.
Sang manager yang kebetulan ada diruangan itu pun wajahnya tampak marah dan sedikit cemas, ada apa Erik tiba-tiba datang ke sini, pikirnya.
“Semua tenang, nanti akan saya jelaskan. Silahkan duduk santai di tempat masing-masing.” Erik berkata tenang dan merogoh Hp di dalam kantong celananya.
Erik pun menghubungi pak Samsul.
“Iya Hallo rik, bagaimana ? apa kamu sudah pergi ke alamat yang saya kirim ?” Suara pak Samsul mengangkat panggilan dari Hp Erik.
“Sudah pak, sekarang saya sudah berada di ruang pimpinan gedung ini, tolong pak Samsul telepon pimpinannya langsung, dan tolong juga berikan arahan padanya untuk membantu dan mempermudah tugas saya.”
“Oke, saya akan telpon Pramana sekarang juga.” Kata pak Samsul mengakhiri pembicaraan di telepon.
Semua orang yang ada di ruangan itu saling pandang mendengar nama pak Samsul di sebut-sebut Erik saat bicara di telepon tadi.
Sang pimpinan yang bernama Pramana itu pun tampak duduk berfikir sambil mengurut-urut alis di atas matanya. Ada hubungan apa Erik dan pak Samsul pikirnya, Tak lama telepon di atas meja sang pimpinan itu pun berbunyi.
“Kriiiing… kriiiiing !!”
Pak Pramana mengangkat telepon itu.
“Hallo.” Jawabnya.
“Pak pramana, Saya Samsul yang bicara, tolong dibantu orang kita di sana yang bernama Erik, tadi saya yang mengirim dia kesana untuk survey dan mengetahui kondisi di sana.”
“Oh, iya baik pak.” Jawab pak Pramana yang sangat mengenali suara pak Samsul.
Pembicaraan singkat di telepon itu pun berakhir.
Seketika sikap semua orang yang ada dalam ruangan itu pun berubah.
“Maafkan saya mas Erik, mari silahkan duduk dulu. ” Pak pramana berkata pada Erik.
Ruangan itu cukup besar, terdapat sofa di kanan-kiri ruangan selain meja besar tempat rapat kecil di samping meja direktur.
Erik pun duduk santai di sofa dan menyuruh security juga ikut duduk di dekatnya.
“Jadi apakah maksud dan tujuan mas Erik menemui kami, mungkin kami bisa membantu.” Kata Pak Pramana kepada Erik.
“Oh, ya.. Kebetulan sekali di ruangan ini sudah berkumpul beberapa orang kepala bagian, pak Dodi selaku manager, Pak Edi sebagai kepala operasional dan ada dua orang kepala bagian yang lainnya.” Kata Erik menatap satu-persatu orang-orang yang duduk di meja besar itu.
Wajah Dodi pucat, selaku manager yang telah memfitnah Erik, rasanya dia ingin cepat-cepat kabur dari ruangan itu.
“Saya harap semuanya bisa bekerja sama, seperti kita ketahui perusahaan ini sedang sakit dan terancam bangkrut, saya sudah banyak mengetahui titik-titik penyakit penyebab perusahaan ini selalu rugi, pak Dodi saya minta tolong nanti berikan berkas-berkas data laporan kerja yang waktu itu pernah saya tunjukkan.” Kata Erik.
Dodi sang manager bertambah pucat gemetaran, ia sadar dirinya dalam masalah besar.
“Saya harap semua tetap tenang, saya tak akan mengungkit sesuatu yang sudah terjadi, bagaimana mungkin perusahaan ini bisa sembuh dan maju tanpa bantuan kalian, semua orang bisa khilaf dan melakukan kesalahan, jadi yang sudah lewat itu biarlah berlalu, Sekarang saya minta yang merasa pernah melakukan khilaf di perusahaan ini untuk berbalik membantu, karena merekalah sebenarnya yang tau persoalan. Apabila masih tak berubah maka akan terjadi pergantian orang dan persoalannya akan diserahkan kepada hukum.” Erik berkata tenang memandang kepada manager dan beberapa kepala bagian yang ada di ruangan itu.
Dodi duduk diam tertunduk, begitu juga kepala bagian yang lain, mereka sedikit tenang karena Erik seperti memberi kesempatan pada mereka dan tak mengungkit kecurangan-kecurangan yang mereka lakukan terhadap perusahaan itu.
“Pak Dodi saya minta siapkan data-data yang saya katakan tadi sekarang, karena saya tak akan berlama-lama di sini.” Erik berkata pada Dodi sang manager.
Dodi memandang ke arah pak Pramana selaku pimpinan, ia seperti minta persetujuan atas wewenang Erik menyuruhnya, pak Pramana mengangguk memberi isyarat, lalu Dodi permisi keluar dari ruangan itu. Tak lama setelah Erik mendapatkan berkas dan data-data yang dimintanya, ia pun keluar meninggalkan gedung itu.
*****
Langit nampak bewarna merah jingga, mentari terlihat mulai berangsur menyembunyikan sinarnya di balik awan. Hembus angin pun lembut sejuk meniup senja itu. Aktivitas orang-orang di kota itu seperti tak penah berhenti, ketika sore menjelang orang-orang pun mulai beranjak meninggalkan kantor-kantor mereka, ribuan karyawan yang menyerbu keluar gerbang pabrik-pabrik besar di kota itu menandakan waktunya pulang kerja.
Sebuah mobil sedan merah melintas pelan menyusuri pinggiran jalan raya yang macet akibat padatnya kendaraan pada sore itu.
“Hmm, macet lagi.” Kata seorang gadis berparas cantik dari dalam mobil merah itu. Gadis itu tak lain adalah Oppy, ia sedang mengemudikan mobil menuju pulang ke rumah setelah dari pagi sibuk bekerja di kantornya. Ia pun kemudian mencoba menyalakan musik di dalam mobil untuk mengusir kejenuhan karena macetnya jalanan.
Sambil menikmati musik sesekali pandangannya mengarah ke trotoar melihat orang-orang yang sedang berjalan di pinggirian gedung-gedung dan toko-toko sepanjang jalan itu. Tanpa sengaja pandangannya tertuju pada seorang pemuda yang berjalan menyandang sebuah tas biru. “kok mirip mas Erik ya ?” Pikirnya melihat pemuda itu terus berjalan.
Oppy penasaran kemudian coba mengklakson mobilnya dengan maksud agar pemuda itu menoleh.
“Tiiin…. tiiiin.. !!” suara klakson yang panjang dan cukup keras.
Benar saja, pemuda itu menoleh ke arah mobil Oppy yang cuma berjarak beberapa langkah.
Ternyata pemuda itu benar adalah Erik, seketika Oppy senang dan terus mengklakson mobilnya sampai Erik berhenti, karena merasa mobil itu seperti memberi isyarat memanggil dirinya Erik pun menghentikan langkahnya.
Kaca kiri mobil perlahan turun ketika Erik berada di samping mobil merah itu.
“Mas Erik ! ayo naik, ada hal penting yang mau Oppy omongin, ayo.” Oppy menyapa menyuruh Erik cepat naik ke mobil.
Erik sempat terkejut dan tak menyangka akan bertemu Oppy di situ, ia pun cepat naik ke mobil karena tak mungkin berbasa-basi setelah mendengar hal yang penting dari Oppy dan situasi jalanan yang akan bertambah macet bila mobil itu lama berhenti.
“Eh, non Oppy ternyata, saya pikir siapa tadi yang klakson-klakson mobil.” Erik menyapa Oppy yang tersenyum senang melihatnya.
“Mas Erik dari mana dan hendak kemana nih, kebetulan ya kita bisa ketemu di sini.” Kata Oppy sambil mengemudikan mobil yang berjalan pelan mengikuti arus macet.
“Iya non, saya pun tak menyangka bisa ketemu non Oppy di sini.”
“Kok masih panggil aku non sih..? panggil adik dong seperti di kantor waktu itu.” Oppy mulai menggoda Erik.
Wajah Erik pun berubah sedikit pucat dan mencoba senyum dengan perasaan serba salah.
“Iya, baiklah dik Oppy, kalau panggilan non itu membuat dik Oppy tak suka dan marah, maafkan kalau saya memanggil dengan sebutan adik.”
“Asyiik, eh.. mas Erik mau pulang ya ? biar aku antar mas Erik sampai rumah.”
“Aduh, tak perlu repot dik Oppy, sebenarnya saya belum ingin pulang, saya mau ke pasar baru menemui seseorang, karena kondisi jalan macet maka tadi saya pilih berjalan kaki menuju persimpangan di depan sana.”
“Waah, menemui seseorang ? Pacarnya ya ?” Kata Oppy yang wajahnya berubah cemberut.
“Bukan, saya menemui seorang pelanggan yang hendak membeli barang.”
“Oooh,, kirain pacarnya.” Kata Oppy kembali ceria dengan senyumnya yang manis.
“Emangnya mas Erik sudah punya pacar apa belum ?” Oppy kembali bertanya, entah kenapa dia jadi agresif dan berani, mungkin dia merasa sosok Erik bukanlah lelaki yang perlu di curigai ataupun diwaspadai, sedangkan papanya saja menaruh kepercayaan yang besar kepada Erik.
Pertanyaan itu bagai serangan yang membuat Erik menjadi kikuk.
“Pertanyaan dik Oppy ada-ada saja, mana mungkin orang gembel seperti saya ini berani pacaran, orang seperti saya masih harus membenahi karier dulu, sampai saya layak untuk memikirkan soal wanita.” Kata Erik merendah yang terkesan minder.
“Eh, katanya tadi ada sesuatu yang penting yang ingin dik Oppy sampaikan.” Kata Erik mengalihkan pembicaraan.
“Sebenarnya saya cuma ingin ngobrol saja dengan mas Erik, saya senang saja ketika melihat mas Erik tadi, oh ya katanya mas Erik waktu itu mau datang ke rumah karena diundang papa, kok nggak jadi ?” Kata Oppy kembali melancarkan pertanyaan yang membuat Erik bingung.
“Oh, iya malam itu.. saya dan papanya terpaksa harus keluar.” Jawab Erik hanya sampai di situ, ia tak ingin mengatakan apa yang sebenarnya dia alami malam itu apalagi harus berbohong.
Tak terasa mereka pun sampai di persimpangan jalan yang di maksud Erik tadi.
“Maaf dik Oppy sepertinya saya harus melanjutkan ke pasar baru, saya biar turun di depan saja, terima kasih sudah diberikan tumpangan.” Kata Erik.
“Gimana kalau aku antar mas Erik ke pasar baru ?” Kata Oppy seperti masih ingin ngobrol dengan Erik.
“Tak usah dik Oppy, dik Oppy pasti lelah, saya lebih senang kalau dik Oppy langsung istirahat pulang, saya benar-benar tak ingin merepotkan.” Jawab Erik.
“Iya deh, kalau gitu aku langsung pulang saja ya, kalau ada waktu telpon aku ya mas Erik.” Kata Oppy
Setelah turun dari mobil itu, Erik hanya berdiri memandang mobil itu melaju pelan meninggalkannya. Mereka pun berpisah di simpang jalan, Erik lalu melangkahkan kaki melanjutkan tujuannya.
*****
Malam itu sekitar pukul 20:00, di sebuah ruangan besar seperti ruang keluarga, pak Samsul sedang duduk di sebuah sofa membaca sebuah buku tebal sambil menikmati kopinya, tampak pula istrinya yang bernama bu Erny sedang duduk menyulam hiasan kain di depan sebuah televisi berlayar besar.
Sedang asyik mereka duduk, datang Oppy menghampiri bu Erny, ia pun lalu duduk di samping mamanya sambil melihat ke layar televisi.
“Pa, Erik itu sebenarnya siapa sih pa ?” Oppy tiba-tiba bertanya pada Pak Samsul.
Pak Samsul sejenak melihat ke arah Oppy dan melanjutkan membaca bukunya sambil berkata.
“Ada apa kamu tanya-tanya soal Erik ? Erik itu orang yang akan papa tugaskan memimpin salah satu perusahaan kita.”
“Waah, berarti Erik akan jadi mitra kerja Oppy nanti pa ?” Kata Oppy sambil memeluk mamanya.
“Ya iya lah, nanti kamu akan membutuhkan bantuannya, begitu juga Erik nanti akan butuh bantuanmu, kita adalah satu team yang harus saling bekerja sama.” Kata pak Samsul sambil membaca bukunya.
“Kapan Erik akan diundang kesini pa ?” Kata Oppy kembali bertanya.
“Eeh,, ada apa anak mama ini dari tadi nanya-nanya Erik terus, apa kamu suka ya sama dia ?” Kata mamanya ikut bicara dan langsung to the point tembak sasaran.
“Iiihh, mama.. Oppy kan jadi malu ma.” Kata Oppy sambil memeluk dan mencium mamanya.
“Wah gawat ini pa.. anak kita sepertinya sudah mulai jatuh cinta.” Kata bu Erny pada suaminya pak Samsul.
“Ya kalau memang mereka berjodoh kita nikahkan saja ma, lagi pula Erik itu pemuda yang baik, papa juga sudah lama ingin menimang cucu.” Kata Pak Samsul menimpali ucapan istrinya.
Oppy begitu senangnya mendengar ucapan papa dan mamanya itu, ia pun senyum-senyum sendiri memeluk mamanya, setelah itu ia permisi ke kamar dengan alasan pergi tidur.
*****
Pagi itu telah terjadi lagi perampokan di sebuah bank. Terlihat banyak polisi dan pasukan bersenjata di lokasi kejadian.
Bersambung ke Bagian 6