Oleh : Rudi Skay.

Pagi itu telah terjadi lagi perampokan di sebuah bank. Terlihat banyak polisi dan pasukan bersenjata di lokasi kejadian yang sedang menyelidiki perkara. Tak ada korban jiwa atau pun pembunuhan, tapi beberapa petugas yang menjaga bank itu berhasil dilumpukkan oleh para perampok.
Tangan dan kaki mereka diikat dan mulut mereka ditutup lakban. Hampir semua uang di brankas penyimpanan bank berhasil dibawa kabur oleh para perampok, mereka hanya menyisakan sedikit saja uang di dalam bank itu.
Terlihat beberapa reporter TV dan wartawan sedang sibuk berlari-lari kecil mengejar seorang perwira polisi untuk mewawancarai dan meminta keterangan.
“Apakah para pelaku sudah berhasil diidentifikasi pak ?” Tanya seorang wartawan pada perwira polisi itu.
“Kasus ini sedang di dalami penyidikan oleh pihak kepolisian, berdasarkan rekaman cctv para pelaku berjumlah 30 orang dan semua mengenakan topeng, hanya pimpinan mereka yang tidak memakai topeng, dan berdasarkan ciri-cirinya sama dengan orang yang bernama Soni gembong perampok bank yang sedang kami buru, kita tunggu saja perkembangannya, kami belum bisa memberikan kesimpulan lebih jauh karena kasus ini baru terjadi jam tiga tadi dini hari.” Jawab perwira polisi itu lalu berlalu meninggalkan para wartawan.
Soni benar-benar membuat kota itu guncang, banyak bank yang sampai kini dibekukan atau lumpuh karena proses pengadilan, bank-bank yang dirampok tak dapat lagi membayar uang tabungan nasabah dan tak ada orang lagi yang berani menabung di bank-bank itu.
Akibat seringnya aksi perampokan bank maka orang-orang pun mulai takut menyimpan uang mereka di bank, bahkan terjadi penarikan uang secara besar-besaran yang membuat seluruh bank di kota itu kewalahan dan sebagian bank bangkrut.
Soni kerap muncul sendirian di kota itu tanpa membawa pasukannya. Terkadang ia muncul di pasar atau di bar, ia sering membagi-bagikan uang rampokannya kepada gelandangan dan pedagang-pedagang kecil di pasar.
Namanya dikenal oleh orang-orang miskin sebagai pahlawan yang selalu menolong orang lemah, dan dikenal oleh orang-orang kaya yang tamak sebagi bandit meresahkan. Maka tak heran bila ia muncul di pasar ia selalu tenang tanpa gangguan, karena orang-orang di pasar pun merasa aman karena Soni bukanlah penjahat yang suka mengganggu mereka.
Pernah suatu hari Soni muncul sendiri di pasar. Tiba-tiba ia dikepung puluhan polisi bersenjata lengkap. Soni hanya tenang menghadapi kepungan polisi, dengan hanya menggunakan tameng meja kayu ia berhasil kabur dengan mudah.
Beberapa tembakan polisi sempat mengenai tubuhnya tapi peluru tak mampu menembus kulitnya, dibantu orang-orang di pasar yang membuat keramaian mempersulit pengejaran dan membuat polisi tak berani melepas tembakan sembarangan, maka Soni pun lepas dari kejaran polisi.
Soni sengaja muncul sendirian dan tak membawa anak buahnya bila pergi main ke pasar atau tempat tempat hiburan malam, ia hanya membawa pasukan di saat merampok saja.
Dan biasanya, bila telah terjadi aksi perampokan bank maka sehari setelah itu atau kadang hari itu juga Soni pasti muncul sendirian membawa tas berisi banyak uang, ia akan muncul di pasar-pasar atau di mana terdapat banyak orang-orang gelandangan terlantar. Maka pihak kepolisian pun menyebarkan personilnya kesetiap tempat di mana Soni kerap muncul.
*****
Dua hari berlalu setelah Erik survey mendatangi perusahaan itu. Maka Erik pun telah diresmikan dan diumumkan sebagai pimpinan baru, semua staf dan karyawan tak menyangka Erik akan menjabat sebagai pimpinan di perusahaan itu.
Setelah acara peresmian usai, pak Pak Samsul beserta beberapa pimpinan perusahaan lain yang menghadiri peresmian itu pun telah pergi meninggalkan tempat. Tampak di luar gedung penuh dengan karangan bunga dengan ucapan “Selamat dan Sukses” kepada Erik sebagai pimpinan baru.
Erik pun langsung mengadakan rapat internal kepada semua kepala bagian di perusahaan itu. Erik tetap memakai mereka tanpa ada satu pun staf yang dipecat atau diganti, dengan membuat visi misi baru, system kerja dan strategi baru yang akan ia terapkan di perusahaan yang ia pimpin.
Tibalah jam makan siang, saat itu Erik sedang berada di ruang kerja barunya. Erik masih tampak sibuk memeriksa berkas dan data-data di meja kerjanya, tiba-tiba pintu ruang kerjanya yang sengaja dibuka sedikit itu, diketuk pelan dari luar.
“Tok.. tok.. tok..!” Suara pintu diketuk.
“Ya, silahkan masuk saja.” Kata Erik sambil terus memeriksa berkas-berkas di mejanya.
“Selamat siang pak, maaf mengganggu, saya hanya mau menanyakan apakah bapak sudah makan siang ? kalau belum makan saya akan siapkan makan siang untuk bapak dan bapak mau pesan makan apa ?” Kata seorang wanita berparas manis, di bagian dada pakaian kerjanya ada bet nama cukup besar dan jelas dengan nama Rini.
Erik kemudian melihat wanita itu, dia mengenali wanita yang bernama Rini itu adalah seorang karyawan yang telah dua tahun bertugas seperti office girl yang menyiapkan makan dan minum para staf dan pimpinan di kantor itu.
“Tunggu sebentar Rini, mulai sekarang direktur dan semua kepala bagian tak ada lagi memakai anggaran perusahaan untuk keperluan pribadi. Dan itu sudah saya umumkan saat rapat tadi.” Kata Erik kepada Rini.
“Baik pak, saya juga sudah diberi tau tadi oleh kepala operasional, maksud saya mungkin bapak mau saya pesankan makan atau minuman.” Kata Rini berdiri menundukkan wajah merasa takut kena marah.
Erik menatap jam dinding, ia pun sadar telah hampir jam satu siang, ia belum makan karena sibuknya menyalin dan merevisi data-data perusahaan. Ia menatap Rini yang masih berdiri tertunduk menunggu perintah.
“Terimakasih Rini, tolong jangan terlalu tegang, kita kan sudah lama saling kenal, sewaktu saya karyawan di sini kamu memanggil saya mas, sekarang kamu memanggil saya pak, kita sebuah team kerja, jangan ada kesenjangan seperti bos dan anak buah di kantor ini, panggil saja saya seperti dulu.” Kata Erik kepada Rini yang dulu adalah teman kerjanya, sekarang Rini menjadi anak buahnya.
Rini yang sejak tadi kaku dan tegang karena status Erik adalah pimpinan, ia takut berbuat kesalahan dalam bersikap. Maka setelah mendengar penuturan Erik, ia pun menjadi sedikit santai dan memandang Erik dengan tersenyum manis.
“Sekarang, saya mau minta tolong belikan saya nasi telor bungkus di warteg, seperti dulu saya sering nitip belanja sama kamu, juga segelas kopi.” Kata Erik membuka dompet dan mengeluarkan uang 100 ribu.
“Kembaliannya ambil saja untuk kamu.” Kata Erik sambil menyerahkan uang itu kepada Rini.
Rini seperti menahan tawa mendengar Erik minta dibelikan nasi telor bungkus di warteg, akhirnya ia cekikikan juga tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
“Mas Erik ini ada-ada saja, masa bos makannya cuma nasi bungkus telor.” Kata Rini sambil mengambil uang yang diberikan Erik.
Mereka pun tertawa, tak ada lagi kekakuan antara bos dan anak buah. Rini pun lalu permisi keluar untuk membeli nasi telor bungkus.
Rini adalah wanita yang lima tahun lalu bertemu Soni. Sewaktu ia bekerja sebagai pelayan toko, ia sering dikunjungi Soni bahkan sering diantar pulang ke rumah oleh Soni. Mereka sempat menjalin kasih dan Rini pun sangat mencintai Soni.
Semenjak Soni mulai melakukan aksi perampokan dan menjadi buruan polisi maka sejak itu pula Soni tak pernah menemuinya lagi, bahkan tak pernah ada kabar lagi di mana Soni berada, yang ia dengar kini hanya nama Soni kerap diberitakan sebagai gembong perampok bank. Rini pun akhirnya berhenti bekerja dari toko itu dan bekerja di perusahaan yang kini dipimpin Erik. Rini pun memutuskan untuk tidak menikah sebelum dapat bertemu dengan Soni.
Di waktu yang sama di tempat lain, Oppy terlihat berjalan cepat keluar dari gedung kantornya, ia lalu menghampiri sebuah mobil sedan merah yang terparkir di depan gedung. Mobil itu yang biasa ia pakai setiap hari ke kantor, siang itu ia berencana ke kantor Erik untuk makan siang bersama sekalian mengucapkan selamat untuk Erik sebagai pimpinan baru di salah satu perusahaan papanya. Ia sengaja tak ikut hadir peresmian pagi tadi agar punya kesempatan menemui Erik secara pribadi.
Maka melajulah mobil merah itu meninggalkan kantornya menuju kantor Erik.
Karena siang itu jalanan lancar maka tak butuh waktu lama mobil Oppy pun sampai dan parkir di depan gedung kantor Erik. Oppy pun lalu turun dari mobilnya dan melangkah memasuki gedung itu.
Semua staf dan karyawan mengenal Oppy dengan baik, mereka tau Oppy adalah direktur dari perusahaan lain sekaligus anak dari pak Samsul pemilik perusahaan tempat mereka bekerja saat ini. Maka tak heran ketika Oppy masuk gedung mereka menyapa dan menyambut Oppy dengan senyum penuh hormat.
Tapi kedatangan Oppy kesana juga membuat semua staf dan karyawan di situ bertanya-tanya.
Tibalah Oppy di depan pintu ruang kerja Erik.
“Tok.. tok.. tokk..!” Pintu yang terbuka sedikit itu pun diketuk Oppy.
“Ya, masuk saja,” Jawab Erik dari dalam ruangan, Erik masih terlihat mengetik di depan laptopnya, tapi ia segera menghentikan kerjaannya setelah memandang ke pintu dan melihat siapa yang berdiri di sana.
“Haii, selamat siang mas Erik.. Selamat dan sukses ya untuk jabatan barunya.” Kata Oppy melempar senyum manis sambil berjalan menghampirinya.
“Ehh, dik Oppy ternyata, terimakasih atas supportnya, wah jadi repot-repot ucapin selamat ke sini.” Kata Erik membalas senyum lalu berdiri dan melangkah ke depan meja. Tapi senyum Erik berubah kecut ketika Oppy tiba-tiba saja dengan langkah cepat mendekat dan memeluknya, ia pikir tadi Oppy hanya akan mengajaknya sekedar bersalaman saja.
Muka Erik seketika pucat, harum tubuh dan rambut Oppy seakan membiusnya. ia hanya bisa diam mematung ketika Oppy memeluknya Erat, Erik tak tau apa yang harus ia lakukan pada situasi seperti itu.
Yang ada dalam hatinyanya adalah cemas, pikirannya teringat pak Samsul yang begitu baik padanya. Sementara Oppy begitu bahagia memeluk Erik, matanya terpejam, seakan ia ingin melepaskan semua angan asmara yang selama ini terpendam di jiwa dari sosok seorang pria yang ia dambakan.
“Tok.. tok.. tokk.!” Pintu ruangan itu terdengar diketuk. Oppy melepaskan pelukannya, Erik merasa lega karena merasa terselamatkan dari situasi yang sulit ia hadapi.
“Ya, masuk saja.” Jawab Erik.
“Maaf mas, ini makanannya, silahkan dimakan dulu mas.” Kata seorang wanita yang tak lain adalah Rini, ia membawa nampan yang berisi bungusan nasi di atas piring dan segelas kopi serta air minum botol.
“Oh ya, terimakasih Rini, taruh saja di atas meja saya.” Kata Erik.
Oppy memperhatikan Rini dan menatap ke Erik, dilihatnya paras Rini yang begitu manis, walau pakaian Rini hanya seragam office girl tapi bisa dilihat olehnya, Rini memiliki tubuh yang sexy. Hmm.. Oppy seakan menjadi panas dan terbakar api cemburu.
“Ooo… karyawan wanita di sini manggil pimpinannya dengan sebutan mas ya ? bagus.” Kata Oppy dengan wajah yang mulai merah karena marah.
“Maafkan saya non.” Kata Rini berdiri diam menundukkan wajah setelah meletakkan makanan di atas meja Erik. Ia sudah lama tau Oppy adalah anak pemilik perusahaan, perasaannya resah dan takut juga merasa bersalah.
“Silahkan kembali lanjutkan pekerjaannya Rini, terimakasih makanannya.” Erik coba mencairkan situasi yang tegang di ruangan itu.
“Maafkan saya pak, non Oppy, saya permisi.” Kata Rini lalu melangkah keluar dengan wajah tertunduk.
Oppy masih memandangi Rini yang keluar dan menutup pintu.
“Maaf dik Oppy, mari silahkan duduk dulu, saya bisa jelaskan persoalan ini.” Erik coba menenangkan dan mempersilahkan Oppy duduk agar sedikit santai.
“Enggak !” Jawab Oppy yang tetap berdiri dengan kedua tangan dilipat di depan dadanya. Parasnya tampak cemberut.
Duh.. kok bisa jadi begini. Kata Erik dalam hati, ia pun mengusap mukanya dengan kedua tangan lalu duduk di pinggir sofa yang ada di ruangan itu.
“Satu tahun yang lalu, sebelumnya saya pernah bekerja di sini, saya dipecat beberapa minggu yang lalu, dan entah kenapa saya bisa ada lagi di sini, wanita tadi adalah Rini karyawan yang sudah hampir dua tahun bekerja di sini, kami sudah lama kenal sebagai rekan kerja, maka dia sudah terbiasa memanggil saya dengan sebutan mas, tadi dia memanggil saya dengan sebutan pak ketika tau saya adalah pimpinan baru, saya yang memintanya untuk seperti biasa saja memanggil saya, dan saya cuma menghapuskan kekakuan dan rasa kesenjangan kepada semua karyawan di sini, karena semua yang bekerja di sini saya anggap adalah team yang saling bekerja sama, maafkan saya bila masalah ini dianggap sebagai kesalahan dan menjadi pelanggaran prosedur, saya siap menanggung konsekwensinya dik Oppy.” Kata Erik menjelaskan, ia berfikir Oppy marah karena masalah etika anak buah terhadap seorang pimpinan, dan Erik tak sadar kalau Oppy marah karena cemburu.
Oppy menatap ke Erik yang duduk tertunduk sambil mengusap wajah, Oppy pun merasa bersalah karena cemburu buta, kemudian ia duduk di samping Erik.
“Saya yang seharusnya minta maaf ke mas Erik, saya tak bermaksud mencampuri pekerjaan mas Erik. Sudah kita lupakan saja masalah ini, tadinya saya mau mengajak mas Erik makan siang, tapi mas Erik sudah beli nasi bungkus, gimana kalau nasinya kita makan saja bareng.” Kata Oppy menggoyang bahu Erik sambil tersenyum.
Erik menoleh Ke Oppy, tatapan mata mereka saling bertemu, Erik melihat mata yang indah itu menatap matanya penuh arti, terlihat sesuatu yang tersembunyi dari gejolak rasa yang tersimpan di hati. Oppy tak kuasa menatap mata Erik yang polos dan tajam itu, ia pun tertunduk malu.
“Memangnya dik Oppy mau makan nasi bungkus cuma lauk telor, kalau mau silahkan makanlah, nanti saya bisa beli lagi kok.” Kata Erik memecah kebisuan.
“Gimana kalau kita makan berdua.” Kata Oppy lagi sambil tersenyum lalu berdiri dan mengambil nasi bungkus yang ada di meja itu.
“Mana kenyang nanti dik Oppy kalau makannya sebungkus berdua.” Kata Erik.
“Kita coba saja dulu, kalau kurang kenyang nanti kita beli lagi.” Kata Oppy membawa piring dan bungkusan nasi itu lalu duduk di samping Erik sambil membuka bungkusan nasi itu.
Mata Oppy terbelalak memandang isi bungkusan itu, dilihatnya nasi yang begitu banyak membumbung, ukuran porsi untuk makan dua orang, telur dadar yang besar dan ada juga potongan potongan kacang panjang serta sayur.
Oppy menoleh ke Erik dan berkata.
“Mas Erik memangnya biasa makan sebanyak ini ? yang makan sebanyak ini lapar apa kesurupan sih ?”
Erik tertawa kecil sambil mengusap alisnya.
“Jadi begini ceritanya, dulu saya sering nitip ke Rini beli nasi yang sengaja untuk porsi dua orang, karena saya sering makan berdua dengan rekan kerja waktu itu, tadi saya lupa memberi tau ke Rini untuk beli nasi porsi satu orang saja, maka jadilah dibelinya saja seperti dulu saya biasa nitip.”
“Ooo, kirain makan segini banyaknya buat sendiri.” Kata Oppy sambil mencicipi nasi dan bumbu sayur dalam bungkusan itu.
“Hemm… Enak juga, coba deh.” Kata Oppy sambil menyendok nasi dan mengarahkan sendok hendak menyuapi Erik.
Erik tentu saja merasa malu kalau sampai disuapin.
“Dik Oppy saja duluan yang makan, nanti baru saya, kalau saya kan sudah sering makan ini dan sudah hapal rasanya.” Kata Erik lalu berdiri mengambil sendok lain.
Oppy pun makan dengan lahap, karena dia baru merasakan makan seperti itu, Erik pun menyendok nasi dan ikut makan sekedar menghargai perhatian Oppy dan tak ingin anak pak Samsul itu kecewa atau tersinggung karena dibiarkan makan sendiri.
Sementara itu, dari sebrang jalan di luar gedung perusahaan yang kini dipimpin Erik, Seorang Pria berpakaian rapi berdasi duduk di dalam sebuah mobil sedan putih. Matanya tajam mengawasi area depan gedung, ia melihat banyaknya karangan bunga ucapan selamat kepada Erik yang terjejer di kanan-kiri gedung itu.
Pria itu adalah Ipan, orang kepercayaan pak Samsul. Ia sengaja mengintai dan memantau gedung perusahaan yang kini dipimpin Erik.
Ipan mengepalkan tangannya saat melihat Oppy keluar dari gedung perusahaan itu bersama Erik. Tampak olehnya Erik mengantar Oppy ke mobil merah yang terparkir di halaman depan gedung. Tak lama tampak Erik melambaikan tangan ketika mobil Oppy bergerak keluar dan meninggalkan gedung.
“kurang ajar !” Ipan menggeram dalam hati. Ia mengepalkan tinju dan memukul stir mobilnya.
Ia sengaja mengawasi dari dalam mobil untuk melihat situasi, ia sakit hati dan kecewa kepada Pak Samsul yang mengangkat Erik menjadi pimpinan di perusahaan itu. Padahal dia sangat berharap dirinyalah yang seharusnya diangkat menggantikan direktur yang lama.
Dan ia merasa lebih pantas menjadi pimpinan karena telah bertahun-tahun bekerja untuk pak Samsul. Semua rencananya buyar. Di tambah lagi ia semakin panas melihat Oppy bersama Erik tadi.
Telah lama Ipan memendam rasa cinta kepada Oppy, tapi ia hanya bisa memendam rasa itu. Maka setelah melihat apa yang terjadi, ia pun akan mengatur rencana untuk menyingkirkan Erik bahkan bila perlu membunuh Erik, dan juga mengatur siasat untuk menculik Oppy.
Setelah cukup lama Ipan mengawasi gedung itu dari dalam mobil, akhirnya dia pun menyalakan mobil dan pergi meningalkan tempat itu.
Waktu bergulir, sore itu di pusat perbelanjaan di emperan toko-toko, berjalan seorang pria mengenakan topi dan masker di wajahnya, langkahnya pun terhenti di depan sebuah toko pakaian.
Pria itu adalah Soni. Ia sedang melakukan penyamaran agar kemunculuannya tak menjadi perhatian orang dan menghindari bentrok dengan polisi. Hari itu Soni mengunjungi toko tempat Rini dulu pernah bekerja, entah kenapa ia merasa rindu kepada Rini yang pernah ia pacari dan cukup lama ia tinggalkan.
Setelah Soni mengetahui kedua orang tuanya tiada, saat itu pula ia mulai menjadi perampok bank. Ia sengaja meninggalkan Rini karena tak ingin gadis itu mendapat masalah karena saat itu dirinya telah jadi buruan polisi dan memiliki banyak musuh.
Maka sore itu ia putuskan untuk menemui Rini di toko itu. Soni melangkah masuk kedalam toko dan mulai melihat lihat pakaian seakan sedang ingin belanja di situ. Matanya pun sesekali mengawasi sekeliling. Tapi ia merasa ada sesuatu yang janggal karena tak melihat Rini yang sedang ia cari.
“Bisa saya bantu mas ? silahkan dipilih-pilih pakaiannya, atau mungkin ada jenis pakaian yang sedang mas cari ?” Kata seorang wanita pelayan toko datang menghampiri Soni.
“Oh iya mbak, saya ingin membeli beberapa pakaian di sini, bisa tolong dipilihkan saja mbak, mana yang bagus menurut mbak saja.” Kata Soni.
“Oh, baik mas, biar saya pilihkan ya..” Jawab pelayan itu senang.
Sambil mengiringi dan melihat pelayan itu memilih-milih pakaian yang cocok untuk dirinya, Soni pun mulai mencari informasi.
“Dulu saya pernah punya teman kerja di sini, tapi kok saya tak melihatnya ya ?” Kata Soni coba bertanya.
“Oh ya..? kalau boleh tau siapa namanya mas ? Jawab pelayan toko itu sambil memilih pakaian.
“Namanya Rini, apakah mbak mengenalnya ?” Kata Soni lagi.
“Oh Rini ternyata, saya kenal, tapi sayang dia sudah tak lagi kerja di sini mas.” Kata pelayan itu lalu mengambil beberapa pakaian.
“Ini saya pilihkan beberapa pakaian apakah masnya suka ?”
“Ya, saya suka, bungkus saja semua nanti mbak. Apakah mbak tau kemana Rini sekarang ?”
“Sebelum dia berhenti kerja, saya magang beberapa hari di sini untuk menggantikannya. Kalau tak salah dia pernah cerita mau melamar kerja di P.T Angkasa Jaya, setelah itu saya tak pernah lagi bertemu dengannya mas.” Kata pelayan itu menjelaskan.
“Ok, baiklah, kalau begitu terimakasih untuk informasinya, jadi berapa semua belanjaan saya ini mbak ?” Kata Soni tak ingin berlama-lama. Setelah mendapatkan informasi, Soni pun membayar belanjaan lalu segera meninggalkan toko itu.
Bersambung ke Bagian 7