Nenek Misterius dan Lima Murid (Bagian 7)

Oleh : Rudi skay.

“Ok, baiklah, kalau begitu terimakasih untuk informasinya, jadi berapa semua belanjaan saya ini mbak ?” Kata Soni tak ingin berlama-lama. Setelah mendapatkan informasi, Soni pun membayar belanjaan lalu segera meninggalkan toko itu.

*****

Erik tampak sedang mengemasi berkas dan dokument di atas meja kerjanya, ia melirik Jam dinding telah menunjukkan pukul 17:15, di saat sebagian besar staf dan karyawannya telah pulang meninggalkan gedung.

“Tok.. tok.. tok..!” Pintu terdengar diketuk.

“Ya, masuk saja.” Jawab Erik.

“Maaf pak, saya izin mau mengambil nampan dan piring.”

Yang mengetuk pintu ternyata adalah Rini. Erik hanya geleng kepala dan tersenyum memandang Rini.

“Kok kamu belum pulang ? maaf soal kejadian siang tadi ya Rin.” Kata Erik.

“Saya yang salah pak, saya sungguh minta maaf telah membuat non Oppy marah.” Kata Rini menundukkan wajahnya.

Erik jadi merasa iba dengan gadis itu, Rini menjadi tumpuan kesalahan karena dirinya.

“Kok panggilnya pak lagi ?” Kata Erik.

“Sudah selayaknya pak, sangat tak pantas saya tak menghargai atasan, biarlah saya panggil pak saja untuk menghindari anggapan yang salah dari orang lain yang mendengarnya.”

“Ya sudah kalau memang hal itu yang terbaik menurutmu, ini nampan dan piringnya silahkan.” Kata Erik menyuruh Rini mengambil nampan dan piring yang tadi siang diantarnya.

Setelah Mengambil nampan dan piring itu Rini pun permisi keluar ruangan itu.

Erik pun membereskan semua pekerjaannya, dan ia pun bersiap-siap untuk pulang. Setelah dirasa semua telah ia rapikan ia pun melangkah meninggalkan ruang kerjanya itu.

Erik terus berjalan meninggalkan halaman gedung, semua staf dan karyawannya telah duluan pulang, yang tersisa hanyalah beberapa security dan penjaga yang memberi hormat ketika melihatnya.

Pak Samsul telah menawarkan Erik sebuah mobil sebagai kendaraan ia bertugas, tapi Erik dengan halus menolak tawaran itu, ia merasa belum pantas karena baru satu hari bekerja, maka ia memilih seperti biasa saja, jalan kaki dan naik angkutan umum pergi dan pulang kerja.

Untuk naik angkutan umum, maka Erik memilih jalan Pintas melewati jalan alternatif di samping gedung kantornya itu. Ketika memasuki jalan tembusan itu Erik merasa mengenali seseorang yang sedang berjalan pelan 10 meter di depannya. Orang itu adalah Rini yang berjalan menyandang sebuah tas kecil.

“Rini..!” Erik coba memanggil gadis itu.

Rini pun menoleh kebelakang dan ia tampak terkejut ketika melihat Erik, ia pun menghentikan langkah dan memandang Erik berjalan cepat menyusulnya.

“Waah, jalan pulang kita bisa sama ya ? Memangnya rumah kamu di mana Rin ?” Tanya Erik.

Rini hanya senyum tertunduk dan kembali memandang Erik.

“Bos direktur kok pulangnya jalan kaki ? saya pulang ke kampung tugu pak Erik.” Jawab Rini.

Mereka pun melanjutkan berjalan sambil ngobrol.

“Berarti kita searah, saya pulang ke kampung gedong.” Kata Erik.

Tiba-tiba langkah mereka terhenti, di depan mereka berdiri seorang pria yang keluar dari lorong kecil jalan itu. Pria itu bertopi dan menggunakan masker, yang tak lain adalah Soni.

Erik sejenak memperhatikan Soni yang tetap berdiri diam melipatkan tangan di dadanya.

“Maaf, kenapa mas berdiri di depan kami ?” Erik coba menyapa Soni.

Soni perlahan membuka topi dan masker lalu menyelipkannya ke balik kantong belakang jeansnya.

Rini seketika terbelalak dan sangat terkejut melihat Soni.

“Bang… Sonii ???” Kata Rini sambil menutup mulutnya dengan kedua tapak tangan seakan tak percaya.

Erik memandang Rini dan memperhatikan Soni yang tersenyum kepada Rini.

“Bang Soniii…!” kata Rini berlari memeluk Soni, derai air matanya pun mengalir. Rini menangis di pelukan Soni. Mereka tampak bagai tak ingin terpisah lagi.

“Kamu tega ninggalin aku..” isak tangis Rini sambil memukul-mukul pelan dada Soni, Soni hanya diam membelai rambut Rini.

Erik hanya melongo dengan apa yang ia saksikan.

Soni memegang bahu Rini dan melepaskan pelukannya, lalu ia berdiri tegak di depan Erik.

“Sepertinya kekasihku nyaman berjalan denganmu, dan aku ingin memastikan apakah kau dapat mejaga diri sendiri sebelum dapat menjaganya, kau hadapi dulu aku baru kau boleh berjalan dengannya.” Kata Soni seperti menantang Erik.

“Tunggu.. tunggu dulu, jangan salah paham..” Kata Erik, tapi ia tak sempat meneruskan penjelasannya karena dengan cepat Soni melepaskan pukulan ke arah perutnya.

Erik melihat pukulan kuat mengarah ke perutnya, ia tak sempat mengelak maka dengan cepat ia menepak tangan kanannya untuk menangkis pukulan Soni.

“Paakkk!!” kedua tangan itu beradu. Erik cepat melangkah mundur. Tangannya merasa sakit bagai menepak besi. Tapi belum sempat apa-apa Soni sudah menyerang lagi mengarahkan tendangan ke arah kepala.

Erik melihat kaki Soni begitu cepat menderu ke wajahnya, dengan cepat ia menunduk, sambil menyapukan kaki kirinya ke arah kaki kiri Soni, dengan maksud menjatuhkan dan menghentikan serangan Soni.

Soni melihat tendanganya tak mengenai sasaran, dan merasakan angin sapuan kaki Erik ke kakinya. Soni tak bisa mengelak atau menangkis saat itu, maka ia biarkan kaki Erik menyapu kakinya untuk melakukan salto ke belakang.

“Druup !” Wuss !” Kaki Soni tersapu, tubuhnya terangkat berputar kebelakang dan dengan cepat tangannya menapak tanah mengatur keseimbangan melakukan pendaratan kedua kaki.

“Sudah ! stop ! jangan berkelahi ! bang.. dia bukan musuh, dia adalah Erik, pimpinan tempatku bekerja.” Kata Rini berlari ke tengah dan menangis memeluk Soni.

Soni hanya diam berdiri menatap Erik saat Rini menghadang dan mencegahnya untuk menyerang Erik, dan Erik pun melihat gelang hitam yang dipakai Soni.

“Kepandaianmu boleh juga, sanggup menghindari seranganku.” Kata Soni.

“Bang Soni, gelang yang kita pakai sama persis, bila gelang yang bang soni pakai itu adalah pemberian sang nenek, maka kita adalah satu guru.” Kata Erik menunjukkan gelang yang ia pakai.

Soni kembali memegang bahu Rini dan dengan pelan melepaskan pelukannya, dia pun melihat gelang yang dipakainya lalu melihat gelang Erik.

“Dari mana kau dapat gelang itu ?” Kata Soni.

“Nenek guru yang memberikannya, dan saya sudah banyak mendengar tentang bang Soni.”

Soni sesaat memperhatikan Erik.

“Nanti kita akan bertemu lagi Erik, aku tak bisa berlama-lama di tempat terbuka seperti ini, sebaiknya kita berpencar agar kau tak mendapat masalah dengan polisi karena bersamaku, sekarang pulanglah, biar aku yang antar Rini pulang, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya.” Soni kemudian memegang tangan Rini dan mengajaknya melangkah.

Erik hanya bisa diam melihat Soni dan Rini berjalan meninggalkannya, Rini menoleh kebelakang memandang Erik dengan mata berkaca-kaca. Erik hanya mengangguk dan tersenyum.

Erik tak menyangka akan bertemu kakak seperguruannya itu, sebenarnya ia ingin lebih lama bicara dengan Soni. Tapi sementara ini ia pun tak ingin mengganggu pertemuan kedua kekasih itu, Ia merasa haru melihat kedua orang itu dan membiarkan Soni mengantar Rini pulang.

*****

Malam itu Erik seperti sulit tidur, tubuhnya berputar ke kanan dan ke kiri di atas tempat tidur dengan pikiran yang menerawang. Ia masih terbayang Oppy, gadis itu seakan telah membuat perasaannya jadi tak karuan. Sebagai lelaki ia harus mengakui kalau mempunyai rasa suka terhadap gadis itu, di sisi lain ia pun merasa tak ingin berbuat kesalahan karena mengikuti perasaannya.

Di tambah lagi pertemuannya dengan Soni, ia pun tak mungkin membiarkan kakak seperguruannya itu terus-menerus membalas dendam dengan cara merampok bank, ia harus mengambil sikap untuk menghentikan sepak terjang Soni.

Erik pun berfikir kenapa pak Samsul dan gurunya tidak menghentikan atau pun mengingatkan Soni agar menghentikan Semua aksinya. Erik berencana bermusyawarah dan membicarakan persoalan Soni kepada gurunya dan pak Samsul bila mereka bertemu.

Pagi pun menjelang, udara yang segar dan kicau burung bersahut-sahut di atas pepohonan rimbun di area komplek perumahan mewah. Pak Samsul tampak berlari-lari kecil memutari jalan di area sekitar rumahnya.

Ia sedang melakukan jogging pagi menjaga kebugaran tubuhnya. Selama ini ia sama sekali tak pernah menggunakan ilmu yang diberikan si nenek kepadanya. Terkadang ia hanya latihan ringan saja dengan maksud untuk kesehatan dan kebugaran tubuh. Setelah olahraga pagi itu, ia pun kembali kerumah untuk sarapan dan berangkat kerja menjalani rutinitasnya setiap hari.

Di tempat lain, Erik pun telah berada di depan gedung kantornya pagi itu, terlihat ia sedang berjalan memasuki halaman gedung. Ia melihat hampir semua staf dan pegawainya yang rata-rata datang ke kantor menggunakan mobil mewah. Sebagai pimpinan Erik tak mempersoalkan hal itu, ia pun berpenampilan biasa saja, tak terlihat sebagaimana penampilan bos atau seorang Direktur.

“Selamat pagi pak Erik.” Sapa security yang waktu itu pernah menghadangnya di pintu masuk.

“Pagi juga pak.” Jawab Erik melempar senyum dan terus melangkah memasuki gedung kantornya.

Begitulah sikap Erik kepada semua pegawainya. Ia tak menganggap semua orang di sana adalah anak buahnya, tetapi rekan kerja dan sebuah team yang harus saling bekerja sama.

Dua jam berlalu, waktu pun menunjuk kan pukul 09:00. Ketika Erik berada di ruang kerjanya dan sedang mengerjakan sesuatu, tiba-tiba pagi itu Ipan telah datang mengetuk pintu ruang kerjanya.

“Tok.. tok.. tok..!” Suara pintu diketuk.

“Ya, masuk saja.” Jawab Erik.

Ipan membuka pintu dan masuk keruangan itu.

“Eh, pak Ipan , tumben pagi-pagi sudah datang ke sini, mari silahkan duduk.” Erik menghentikan pekerjaannya ketika melihat Ipan masuk dan mempersilahkannya duduk.

“Terimakasih.” Jawab Ipan lalu duduk di kursi yang ada di depan meja Erik sambil matanya melihat kanan-kiri ruang itu.

“Wah, pasti ada sesuatu yang penting pak Ipan datang ke sini, oh ya mau minum apa pak Ipan ? Kopi atau teh atau yang lain mungkin ?” Kata Erik menawarkan Ipan minum.

“Tak usah, tak perlu repot. Saya kesini tak lama, saya datang hanya untuk menjemput mas Erik karena pak Samsul ingin bertemu secepatnya pagi ini.” Kata Ipan.

Erik sejenak diam dan berfikir, ada apa pak Samsul ingin menemuinya ? tapi ah kebetulan ia juga ada keperluan membicarakan tentang Soni kepada pak Samsul, pikirnya lagi.

“Baiklah, kalau begitu apakah kita langsung jalan saja sekarang.” Kata Erik.

“Ya, sabaiknya begitu, mari.” Kata Ipan lalu berdiri.

Setelah Erik merapikan pekerjaannya di atas meja, akhirnya mereka berjalan meninggalkan ruangan itu.

Ipan pagi itu sengaja menjalankan skenario rencana jahat untuk menjebak Erik ke suatu tempat, ia pun telah bekerja sama dengan Dodi sang Manager untuk memanipulasi data perusahaan yang ada di ruang kerja Erik.

Sama sekali Erik tak menaruh curiga karena yang menjemputnya adalah Ipan, orang kepercayaan pak Samsul.

Setelah beberapa lama mobil Ipan melaju pergi membawa Erik, tibalah mereka di halaman sebuah rumah. Erik sempat heran dan bertanya.

“Rumah siapa ini pak Ipan ?” Tanya Erik.

“Ini rumah tempat kita rapat nanti.” Jawab Ipan singkat dan mengajak Erik turun untuk masuk ke dalam rumah. Erik merasakan ada yang aneh, sikap Ipan pun ia rasakan agak berubah dan dingin selama perjalanan tadi, ia pun mulai sedikit waspada mengikuti Ipan memasuki rumah itu.

Ipan telah mengatur siasat dan menyewa beberapa penjahat bayaran untuk mencelakai Erik. Maka rumah itu sebenarnya telah dikepung para penjahat bayaran yang bersembunyi di sekitar rumah itu.

“Silahkan duduk.” Ipan menyuruh Erik duduk ketika berada di dalam rumah itu.

Terlihat ada beberapa orang yang berpakaian rapi berdasi yang telah duduk di ruang itu, mereka adalah penjahat yang dibayar Ipan untuk berpura-pura sebagai tamu pak Samsul agar tak menimbulkan kecurigaan Erik.

“Di mana pak Samsul ?” Erik coba bertanya pada Ipan sambil melihat sekeliling dan ia tak melihat pak Samsul di ruangan itu.

“Pak Samsul sedang keluar sebentar, dia tadi berpesan kalau mas Erik datang tunggu saja dulu.” Kata seorang yang duduk di ruangan itu.

Tak lama datang seorang pelayan membawa nampan yang berisi beberapa gelas kopi.

“Santai saja sebentar mas Erik, kita ngopi dulu sambil menunggu pak Samsul.” Kata Ipan.

Pelayan itu seorang lelaki setengah baya, ia pun menaruh gelas kopi satu persatu di atas meja di depan orang-orang yang duduk di ruangan itu. Erik masih belum menyadari dirinya terancam bahaya, kopi di dalam gelas yang ada di depannya itu telah dicampur obat untuk melumpuhkan Erik.

“Mari, mari… diminum kopinya” Kata Ipan mengangkat gelas kopi di depan nya, diikuti beberapa orang lainnya.

Erik pun mengangkat gelas kopi dan meminumnya.

Ipan tampak senang melihat Erik meminum kopi itu. Kelinci masuk perangkap, tunggu saja kau sebentar lagi. Katanya dalam hati.

Mereka pun bercakap-cakap seolah tak terjadi apa-apa, Ipan memancing pembicaraan agar dapat mengalihkan pertanyaan Erik tentang pak Samsul yang memang tak akan datang di tempat itu.

“Oh ya mas Erik, bagaimana jabatan barunya, apakah banyak kendala di sana ? Saya mengucapkan selamat dan sukses buat mas Erik.” Kata Ipan sambil meminum kopinya.

“Terimakasih pak Ipan, sementara ini memang banyak yang harus dibenahi di sana, tapi mudah-mudahan ke depannya bisa lebih baik dengan program dan system yang baru.” Kata Erik.

Tak terasa Erik sudah hampir menghabiskan kopi di gelasnya, karena Erik memang sangat suka minum kopi, ia pun mulai merasakan kantuk yang hebat, tubuhnya pun mendadak seperti menjadi lemas, ia tak mampu melawan reaksi obat itu dan akhirnya Erik pun tak sadarkan diri.

“Hahahaha… hahahaha !” Mampus kau bajingan !” Sekarang kau rasakan sakit hatiku, dan kau akan lihat apa yang akan kulakukan padamu… Hahahaha !” Kata Ipan tertawa penuh kemenangan dengan wajah sinis dan mata tajam dengan mulut menggeram.

Semua yang ada di ruangan itu pun ikut tertawa melihat Erik pingsan tak berdaya di atas sofa.

“Cepat ikat dia dan lakban mulutnya ! bawa dia kedalam kamar !” Kata Ipan kepada orang orang itu.

Bersambung ke Bagian 8

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai