Oleh : Rudi Skay.

Semua yang ada di ruangan itu pun ikut tertawa melihat Erik pingsan tak berdaya di atas sofa.
“Cepat ikat dia dan lakban mulutnya ! bawa dia kedalam kamar !” Kata Ipan kepada orang-orang itu.
Dengan cepat mereka mengikat kedua tangan dan kaki Erik, mereka pun membawanya masuk ke dalam sebuah kamar.
Entah berapa lama Erik pingsan saat itu, ia pun mulai tersadar dan perlahan membuka mata, ia merasakan kepalanya sedikit pusing, pemandangan matanya sedikit berbayang. Tapi tiba-tiba Erik terkejut ketika mendapati dirinya sedang berada di atas kasur bersama seorang wanita yang tanpa busana. Belum sempat ia berbuat apa-apa tiba-tiba pula pintu kamar itu didobrak keras.
“Braakkk !!!” Suara pintu didobrak.
“Jangan bergerak !” Beberapa orang polisi masuk dan menodongkan pistol ke arah Erik, diikuti beberapa orang wartawan yang memotret kejadian itu.
“Anda kami tangkap karena masuk rumah orang dan melakukan pemerkosaan.” Kata Polisi bergerak cepat menangkap dan memborgol Erik. Seketika Erik tak bisa berbuat apa-apa ketika polisi menangkap dan menggiringnya keluar rumah, lalu membawanya ke kantor polisi.
Berita pun cepat tersebar, di televisi dan koran memberitakan “Seorang Direktur memperkosa istri orang.“
Begitulah skenario yang disusun rapi dan telah direncanakan oleh Ipan, ia membayar orang-orang untuk melakukan siasat jahatnya. Seandainya Erik tak pingsan karena meminum kopi yang telah dicampur obat itu, Ipan tak segan-segan membunuhnya karena Ipan telah menyiapkan orang bayaran untuk menghabisi Erik.
Bukti-bukti dan saksi-saksi semua menyudutkan Erik, bahkan wanita yang dianggap sebagai korban saat bersamanya di kamar itu pun adalah orang suruhan Ipan. Hingga Erik tak punya bukti dan saksi untuk membela diri.
Erik pun dijebloskan ke dalam sel tahanan tanpa perlawanan. Sehari sudah ia di dalam tahanan, ia sudah menjelaskan apa yang terjadi pada polisi, tapi Erik tak dapat memberikan bukti dan saksi-saksi untuk pembelaan dirinya, maka ia pun menjadi tersangka.
Erik hanya terduduk diam di dalam sel itu, ia mulai berfikir untuk keluar dari sel dan menemui pak Samsul, percuma ia membela diri tanpa bisa membuktikan pembelaannya. Maka ketika polisi yang biasa berjaga di depan sel itu sedang ke ruang lain, Erik pun menggunakan teleportasinya untuk menemui pak Samsul.
“Wusss !” Tubuh Erik seketika menghilang dari dalam sel itu.
Tak lama setelah itu, beberapa orang polisi datang untuk memeriksa Erik, dan betapa terkejutnya polisi itu ketika melihat sel itu telah kosong, mereka coba memeriksa kunci dan jeruji sel, semua normal tak ada yang dirusak. Kontor polisi itu pun geger. Dan kepolisian menyatakan Erik telah menjadi buronan yang telah kabur dari tahanan.
“Wusss !” Tubuh Erik tiba-tiba muncul di sebuah toilet.
Erik mengetahui pak Samsul sedang berada di suatu tempat melalui terawangan ilmunya, Maka agar kemunculannya di tempat yang ia tuju tak ketahui orang, maka Erik sengaja muncul di toilet kantor itu. Erik segera keluar dari toilet itu dan bergegas menuju ruangan di mana pak Samsul sedang berada.
“Tok.. tok.. tok..!” Erik mengetuk pintu ruangan itu.
“Masuk !” Terdengar suara orang menyuruhnya masuk.
Erik membuka pintu dan masuk lalu menutup pintu itu kembali. Tapi Erik sedikit terkejut di ruangan itu telah berkumpul beberapa orang, ia melihat pak Samsul bersama Oppy, ada juga Ipan dan Dodi sang manager.
Semua orang yang ada di ruangan itu pun kaget ketika melihat Erik.
“Erik ! apa yang telah engkau lakukan ! saya benar-benar tak menyangka kau bisa melakukan hal yang serendah itu !” Kata pak Samsul keras dan berdiri dari kursi duduknya.
Erik sesaat diam dan memperhatikan Ipan yang tersenyum sinis kepadanya.
“Saya sengaja datang kesini untuk menjelaskan semua yang terjadi.” Kata Erik kemudian memandang ke arah pak Samsul.
“Cukup Erik ! tak ada yang perlu dijelaskan lagi ! bukti-bukti telah menunjukkan semua yang kau lakukan, kau tak ada bedanya dengan Soni, dan apa ini !”
“Brukkk !!”
Pak Samsul membanting susunan berkas tebal berisi data dan dokument perusahaan yang telah dimanipulasi oleh Dodi ke atas meja.
Erik memandang orang-orang yang ada di ruangan itu. Erik menatap Oppy, tampak gadis itu pun seakan ikut percaya dengan semua tuduhan yang ditimpakan kepadanya, Oppy hanya diam menggeleng kepala dengan menitikkan air mata, sedih dan kecewa kepada Erik.
“Bukan saja telah melakukan pemerkosaan, tapi kau juga telah menghianatiku Erik ! kau buat aturan yang menguntungkan dirimu sendiri di perusahaan yang ku percayakan padamu ! sekarang pergilah dari hadapanku ! atau akan ku panggil polisi untuk menangkapmu !” Kata pak Samsul yang sangat marah kepada Erik.
“Biar saya yang akan menangkapnya.” Kata Ipan berdiri.
“Biarkan polisi yang menangkapnya, tak perlu kau hadapi dia Ipan.” Kata pak Samsul mencegah Ipan.
Pak Samsul sudah lama mengangkat Ipan sebagai pegawai sekaligus pengawal pribadinya. Ipan seorang atlet taekwondo sabuk hitam yang memiliki banyak prestasi meraih medali dalam beberapa kejuaraan dan turnamen. Dan Ipan juga sering melatih taekwondo di perusahaan tempat pak Samsul bekerja. Tapi disayangkan, Ipan terlena tahta, harta dan wanita membuatnya lupa diri.
Ipan kembali duduk dengan wajah sinis kepada Erik.
Erik sepertinya tak perlu menjelaskan apa-apa lagi di situ, karena ia pikir akan percuma saja untuk saat ini, maka ia memutuskan untuk pergi dari situ dan mencari cara lain untuk menyelesaikan persoalan yang sedang ia hadapi saat ini. Erik kemudian mundur dan membuka pintu, lalu segera meninggalkan tempat itu sebelum security datang dan menimbulkan keributan di sana.
“Wusss !” Tubuh Erik seketika telah kembali berada di dalam sel tahanan. Ia sengaja kembali ke dalam sel agar rumah abangnya tak menjadi sasaran pencarian oleh polisi. Dan polisi sempat heran setelah mendapati Erik kembali berada di dalam sel.
Seorang Inspektur polisi yang bernama Yuda sebagai kepala kepolisian di kota itu, ia berjalan diiringi beberapa orang polisi lainnya mendatangi sel tempat Erik ditahan. mereka berhenti di depan sel dan memandang Erik yang hanya duduk diam bersandar di dinding tahanan.
Inspektur Yuda lama mengamati dan menatap wajah Erik, tampak olehnya wajah itu hanya tenang tanpa rasa takut, tak terlihat seperti muka orang bersalah. Inspektur Yuda sudah berpengalaman mengetahui seseorang itu bersalah atau tidak hanya dengan melihat ekspresi wajah tersangka.
“Saudara Erik, tolong anda berdiri dan maju kedepan saya.” Kata inspektur itu.
Erik perlahan berdiri dan maju kedepan Inspektur polisi itu.
“Bagaimana anda bisa keluar dan masuk lagi dalam sel ini secara tiba-tiba ? saya tau anda mempunyai sesuatu kelebihan, saya ingin membuat penawaran untuk anda.” Kata Inspektur Yuda.
Erik hanya berdiri diam dan tak bisa menjelaskan apa-apa, ia hanya bisa melihat apa yang hendak dilakukan polisi terhadapnya.
“Keluarkan dia.” Kata Inspektur Yuda memerintahkan anak buahnya.
Seorang polisi segera membuka kunci sel dan mengeluarkan Erik dari sel tahanan itu.
Inspektur Yuda melangkah lalu duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
“Silahkan anda duduk saudara Erik. Saya minta yang lainnya tinggalkan kami berdua.” Kata Inspektur Yuda memerintahkan anak buahnya untuk keluar ruangan.
Erik kemudian duduk di kursi yang berada di depan meja Inspektur, sedangkan beberapa polisi yang ada di situ bergerak keluar meninggalkan ruangan.
“Saya akan membantu anda, kasus anda ini bisa saya atasi bila anda mau bekerja sama.” Kata Inspektur itu.
“Maaf pak, saya belum mengerti maksud bapak, bekerja sama dalam hal apa yang bapak maksudkan.” Jawab Erik.
“Begini saudara Erik. Apakah saudara mengenal Soni gembong rampok itu ?” Tanya Inspektur Yuda.
Erik diam sejenak, ia coba memahami maksud sang Inspektur, tanpa sengaja matanya melihat gelang hitam yang melingkar di pergelangan tangan Inspektur Yuda, ketika Inspektur itu meletakkan kedua tangan di depan hidung sambil menatap ke arahnya dan menunggu jawaban.
“Maaf pak, sebelum saya menjawab pertanyaan tadi, saya ingin bertanya di mana bapak membeli gelang itu ?” Tanya Erik.
Inspektur Yuda kemudian melihat gelang yang ia pakai, lalu ia pun memperhatikan gelang di tangan Erik.
“Saudara Erik, saya sudah menduga anda memiliki sesuatu, sekarang saya jadi bertambah yakin setelah melihat gelang yang saudara pakai, apakah gelang itu dari seorang nenek ?” Kata Inspektur Yuda bertanya pada Erik.
“Benar, dan apakah gelang yang bapak pakai itu juga dari sang nenek ?” Erik berbalik bertanya.
“Sungguh tak di sangka, pertemuan yang tak terduga dan tak terbayangkan oleh saya, ternyata kamu adalah murid sang nenek.” Kata Inspektur tersenyum lebar dan mengulurkan tangan kepada Erik. Mereka pun berpegangan tangan lama dan saling memperhatikan gelang yang mereka pakai.
*****
Dua puluh tahun lalu Inspektur Yuda adalah seorang pemuda yang baru pulang dari pendidikan kepolisian. Suatu malam ketika ia berada di rumah orang tuanya, terjadi kebakaran besar di beberapa rumah yang tak jauh dari rumah orang tuanya itu, semua orang berbondong-bondong menyaksikan kebakaran dan mencoba menolong untuk memadamkan api yang semakin membesar itu. Yuda pun berlari ke lokasi kebakaran untuk ikut berusaha menolong memadamkan api.
Setibanya Yuda di lokasi, semua orang menjerit histeris karena terdengar keras suara seorang anak bayi yang menangis terkurung di dalam rumah yang terbakar. Semua orang hanya berteriak tanpa ada yang berani masuk kedalam kobaran api untuk menyelamatkan sang bayi, Yuda yang melihat kejadian itu dengan cepat dan dengan berani langsung berlari masuk kedalam rumah yang terbakar itu untuk menyelamatkan sang bayi.
Tak lama ia pun keluar dari panasnya kobaran api dan berhasil menyelamatkan bayi itu. Baru sebentar ia mengatur nafas dan mendinginkan badan tiba-tiba terdengar lagi teriakan minta tolong dari dalam rumah yang sedang terbakar itu, kembali semua orang berteriak-teriak dan tak ada yang berani masuk untuk menyelamatkan.
Yuda pun akhirnya kembali berlari masuk kedalam kobaran api, ia merasakan di dalam rumah itu sangat panas dan ia melihat seorang nenek yang duduk dengan kedua tangan terulur ke arahnya, seolah nenek itu minta digendong untuk dibawa keluar, Yuda dengan cepat memegang kedua tangan si nenek dan bermaksud menggendongnya, tapi tubuh si nenek sangat berat luar biasa, Yuda tak mampu mengangkat nenek itu, bahkan untuk menggeser si nenek pun tak bergeming dari tempatnya.
Kedua tangan si nenek justru memegang kuat tangan Yuda, api semakin membesar dan panas, Yuda coba melepaskan pegangan tangan si nenek di tangannya, tapi tangan si nenek semakin kuat dan tak mampu ia lepaskan. Yuda pun pasrah, ia berfikir mungkin akan mati disitu, tiba-tiba si nenek berkata.
“Tenang cung, kau adalah pemuda yang baik dan berani, api tak akan membunuhmu, pejamkan matamu, cepat !”
Yuda pun memejamkan mata, ia pikir mungkin nyawanya akan melayang karena panasnya api sudah tak mampu ia tahan. Tapi keanehan terjadi, ia perlahan merasakan sejuk dan tak lagi merasakan panasnya api.
“Sekarang kau adalah muridku, aku baru saja menyalurkan ilmu anti api dan anti senjata api kepadamu. Sekarang buka matamu perlahan.”
Yuda perlahan membuka mata, tapi si nenek sudah menghilang entah ke mana. Ia menoleh sekeliling tapi ia tak menemukan si nenek. Api pu sudah sebagian membakar pakaiannya tapi ia tak merasakan panas, kulitnya pun tak mengalami terbakar, maka dengan mudah ia tepak mematikan api di pakaiannya, Yuda segera keluar dari rumah yang terbakar itu, dan terus melangkah pulang menghindari keheranan dan pertanyaan warga.
*****
Setelah berjabat tangan Erat dan saling memperhatikan gelang, Erik berkata pada Inspektur Yuda.
“Nenek guru pernah berkata kalau dia mempunyai lima murid, tapi baru tiga orang yang saya temui.”
“Siapa saja yang telah kau temui Erik, saya justru tak mengetahui berapa orang jumlah murid si nenek dan tak pernah tau siapa saja muridnya.” Kata Inspektur Yuda
“Yang pertama saya bertemu dengan pak Samsul pemilik beberapa perusahaan terbesar di kota ini.”
“Pak Samsul pengusaha terkaya di kota ini maksudmu Erik ?”
“Benar, setelah itu saya juga bertemu murid si nenek yang menjadi gembong perampok di kota ini, siapa lagi kalau bukan Soni.”
“Soni ?? maksudmu Soni yang menjadi buruan polisi ?” Kata Inspektur seakan tak percaya.
“Benar, dia juga murid si nenek.” Erik menjelaskan.
“Hmm, pantas saja Soni sulit ditangkap, tapi kelakuannya itu secara tak langsung meringankan tugas polisi untuk kasus kriminal. Sangat sedikit sekali kejahatan seperti penodongan atau pencurian terhadap masyarakat kecil, bahkan angka kriminalitas di kota ini menjadi sangat kecil sekali. Penjahat-penjahat kecil takut dengan Soni dan gerombolannya, kota ini menjadi aman dari pencurian atau pun kekerasan premanisme, cuma yang menjadi kasus besar kejahatan di kota ini satu-satunya adalah perampokan bank yang di lakukan oleh Soni.” Kata Inspektur sambil mengusap dagunya.
“Itu lah yang menjadi pikiran saya saat ini, saya telah menemui pak Samsul untuk berbicara, tapi beliau sudah termakan hasutan dan fitnah yang membuatnya berbalik memusuhi saya.” Kata Erik.
“Kalau murid si nenek berjumlah lima, berarti kita telah mengetahui empat orang, lalu siapa satu lagi murid dari guru kita itu ?” Inspektur kembali bertanya pada Erik.
“Murid nenek yang satu lagi belum saya ketahui, dan tak tau apakah menjadi seorang penjahat atau menjadi orang baik.” Kata Erik.
“Semua murid si nenek diturunkan ilmu yang berbeda, engkau Erik memiliki kemampuan teleportasi, hilang dan muncul di tempat lain, Soni memiliki kehebatan bela diri dan kebal senjata, andai kita bisa bersatu mewujudkan keadilan dan memakmurkan di kota ini.” Kata Inspektur Yuda.
“Saya sependapat dan satu pemikiran, tapi saat ini saya sendiri sedang dalam masalah, secara tak langsung Ipan telah mempertemukan saya dengan pak Yuda.”
“Saya akan membantu masalah mu, kasusmu telah saya dalami dan terdapat kelemahan pada saksi-saksi dan bukti, saya sudah menduga kasus ini adalah rekayasa. Dan saya percaya padamu Erik, saya bisa mengetahui dari ekspresi wajahmu, dan itu adalah salah satu kelebihanku.”
“Terimakasih pak Yuda, lalu apa rencana bapak sekarang, dan apa yang harus saya lakukan ?”
Bersambung ke Bagian 9