Penulis : Rudi Skay |27/1/2025

SELAMAT menikmati hidup.
Bila hidup dengan “Rasa.” Maka Rasa itu adalah Nuansa atau sensasi yang direspon oleh kesadaran sebuah diri yang akan menjadi karakter, sifat, kualitas atau kemampuannya.
Dari perspektif yang objektif Rasa adalah sifat-sifat zat yang terkandung pada sebuah objek, contohnya sifat gula yang manis.
Dari itu, hidup adalah “Keadaan pada sebuah kesadaran yang merasakan realitas dan memproses segala rasa tersebut.”
Secara universal hidup adalah proses pergerakan, perputaran, perubahan setiap aspek pada makhluk hidup.
Maka ketika kita sadar, bahwa kesadaran itu adalah sebuah keberadaan diri yang hidup dalam kenyataan.
Kesadaran adalah kemampuan diri mengetahui kondisi, posisi, situasi dan kapasitas diri sebagai apa dan untuk apa pada keadaan yang dialami.
Realitas atau kenyataan itu apa ? Adalah sebuah dimensi alam sebagai proses yang sedang berlangsung. Atau kesadaran pada keadaan yang sedang terjadi.
Lantas apakah sebenarnya Tujuan hidup ini ?
Jawabnya tergantung kesadaran diri dan rasa yang berada di dalamnya.
Tapi pada umumnya orang akan mempunyai pencapaian atau hidup untuk meraih kesuksesan dan prestasi tertentu.
Pertanyaannya adalah, apa dan untuk apa sukses itu ?
Bila sukses adalah keberhasilan. Dan meraih sukses tujuannya untuk mendapatkan kebahagiaan dan kehidupan yang sejahtera ? Apakah Bahagia dan sejahtera itu adalah Rasa juga pada akhirnya ?
Apakah mungkin Tujuan hidup adalah menghasilkan rasa yang berkualitas dengan kesadaran pada realitasnya.
Rasa yang berkualitas seperti apa ? rasa yang memenuhi nilai kepuasan, tidak bisa dipungkiri setiap orang ingin terpuaskan, makanya mereka belajar, bekerja, dan mencari, setiap orang dipicu ingin membuat perubahan dalam kehidupan.
Realitas atau kenyataan di dalam kehidupan selalu menyajikan hidangan sebagai pilihan, ada yang disebut sebagai Dualitas yang selalu berlawanan atau berpasang-pasangan.
Siang-malam, Besar-kecil, Kuat-lemah, baik-buruk, susah-senang dan seterusnya.
Diri yang hidup akan selalu dihadapkan dengan segala aspek dari berbagai sifat-sifat objek, peristiwa, situasi, kondisi yang akan memicu Rasa yang terkontaminasi di dalam diri.
Diri akan mengalami dan merasakan nuansa dan sensasi dalam dualitas enaknya dan tidaknya, baiknya dan buruknya, sakitnya dan sehatnya, gagalnya dan tidaknya dan seterusnya.
Maka diri akan menunjukkan respon sebagai sikap yang dibentuk oleh pengalaman dan pengetahuannya sebagai kemampuan dirinya dalam melebur rasa dalam hidup.
Diri hidup menyerap segala yang ia alami, artinya diri menerima input yang masuk.
Diri dengan segala yang di alaminya juga akan menghasilkan output sebagai kualitas dalam sikap perilakunya.
“Rasa” itu sendiri merupakan fondasi yang memperkaya berbagai konteks di dalam realitasnya hidup.
Perjalanan hidup menjadi cerita masing-masing pribadinya.
Jika kamu hidup, kamu harus siap menerima segala rasa yang ada tanpa diduga dan juga harus cerdas menyikapinya agar kamu tidak binasa dalam penderitaan yang menyakitkan akibat rasa yang tidak mampu kamu damaikan.
Ketika diri menerima realitas dengan segala rasa dan mencari pengkondisiannya maka diri akan mengembang untuk menampung apapun dan melebur segala rasa menjadi rasa yang berbeda dalam kualitasnya.
Namun jika diri menolak realitas yang hanya mengizinkan satu kondisi diantara dualitasnya ? maka diri akan kehilangan keseimbangan yang memicu masalah, dan ketidakwajaran.
Diri akan berpeluang melakukan pelanggaran, dan menginjak-injak nilai keadilan.
Kecewa itu boleh, sakit hati tidak mengapa, marah silahkan, benci juga tidak masalah, tapi gunakan akal agar semua rasa itu tertib ukuran, batasan, aturan, porsi dan adil dalam setiap aspek kehidupan.
Hidup bagai sebuah lampu, yang akan selalu berpijar cahayanya dengan dualitas yang utuh dari energi positif dan energi negatifnya.
Jika realitas hidup ada dualitas nya, maka diri yang hidup ada alat peleburnya yaitu akal untuk menyempurnakan rasa dalam nikmatnya kehidupan.
Meleburkan rasa dalam wujud realitas hidup banyak mengundang Tanya.
Bagaimanakah cara melebur rasa di saat rasa Marah melanda kita misalnya?
Cara melebur rasa saat kesedihan menerpa ?
Dan cara melebur rasa di saat ketakutan menyelimuti ?
Marah, sedih dan takut bukan untuk dihindari ataupun diredam.
Nikmati saja prosesnya bagai api yang membakar, udara berhembus, dan air yang mengalir.
Marahlah jika ia terbakar, Nikmati saja panasnya secara sehat, Marahmu bukan untuk merusak atau menghancurkan sesuatu yang menjadi nilai kebaikan.
Lepaskan marahmu pada sasaran yang tepat, Yang membuat perubahan dan nilai yang berarti.
Marahmu hendaknya mengakibatkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada, marahmu dapat mengurangi yang berlebihan menjadi sedikit berkurang, sesuatu yang kurang sedikit bertambah, yang tidak sadar menjadi sadar, yang tidak tau menjadi tau, yang tidak tertib menjadi tertib dan seterusnya.
Ibarat api yang kau gunakan untuk membakar jagung, mengolah rasa yang mentah menjadi nikmat dalam manisnya, gunakanlah panasnya sesuai porsi yang tidak membuat jagung itu menjadi hangus.
Maka kau akan menikmati kemarahanmu secara puas tanpa penyesalan, dan marah adalah sumber daya sebagai komponen dalam setiap diri makhluk hidup.
Bisa kamu bayangkan komponen marah pada dirimu dicabut, dan kamu hidup tidak bisa marah sama sekali, maka kamu akan menjadi seperti benda.
Marah itu hanya satu rasa sebagai contoh, rasa yang paling sulit untuk dilebur dalam kehidupan. Membutuhkan pengetahuan dan keberanian yang tinggi meleburnya secara sempurna.
Apakah ketika kita telah berhasil pada sesuatu maka sempurnalah rasa itu ? Belum, karena selama masih hidup maka prosesnya masih berlangsung dan belumlah final.
Karena dunia bukan milik pribadi, maka untuk bisa senang kau harus membayarnya dengan usaha, belajar dan berlatih, yang kesemuanya itu tentu untuk dinikmati saja.
Karena itu, kebahagiaan dan kepuasan batin yang sejati tidak bisa dibeli di toko-toko. Ia harus dicapai dengan cara yang etis dan bermoral, dengan mempertimbangkan keadilan dan menjalankan nilai-nilai yang luhur.”
“Kenali dirimu, maka kau akan mengetahui isinya dan tau cara menikmati rasa di dalamnya.”
“Hidupmu menjadi rasa dalam dirimu, dan Rasa dalam dirimu menjadi cerita Kehidupanmu. Kau boleh terbang tinggi di langit, ataupun terbenam di kedalaman samudera, tapi ingat kau harus kembali pada realitas hidupmu. Terimalah setiap rasa, karena di dalamnya tersimpan makna dan pelajaran yang berharga.”
*****