Cerita Fiksi | Oleh Rudi Skay

SETELAH kawanan kerbau itu berlari kabur menjauh, yang tersisa di tempat itu hanyalah puluhan ekor kerbau liar yang terkapar tewas dikelilingi kawanan pasukan serigala dan anjing hutan, mereka bersorak-sorai bergembira dalam pesta makan besar menikmati kemenangan.
Dalam waktu yang singkat saja lokasi itu seketika menjadi ramai karena mengundang kehadiran kawanan hewan predator lainnya yang lapar.
Terlihat burung-burung bangkai dan kawanan gagak hitam terbang berputar-putar di atas pesta makan besar tersebut.
“Kalian nikmatilah sampai kenyang, lalu biarkan bangsa burung ikut mencicipi sajian pesta kita agar perburuan kita diberkati, makanan ini tidak akan habis kalian makan sendiri, jangan serakah dan biarkan hewan lainnya ikut gembira agar mereka selalu memberi dukungan setiap kita melakukan perburuan besar.” Kata Riko dengan ucapan yang keras kepada seluruh pasukannya.
“Kaaakh.. kaaakhh..!” Riuh suara kawanan burung bersorak senang mendengar pernyataan Riko sang raja serigala baru kepada pasukannya itu.
Riko adalah serigala yang cerdas dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang bijaksana, didikan keluarga rusa membuat ia menjadi serigala yang ber empati dan toleransi yang tinggi. Namun ia akan menjadi pembunuh yang kejam dalam pertarungan.
Setelah berhari-hari melakukan berbagai perburuan besar dan menjelajahi berbagai wilayah.
Maka sejak saat itu rimba raya menjadi geger dan gaduh dengan kehadiran Riko dan pasukannya yang telah menjadi buah bibir di kalangan penghuni rimba.
Sepak terjang Riko membuat resah para penguasa-penguasa wilayah, sebagian wilayah sudah dikuasai oleh Riko dan pasukan serigalanya dalam berbagai pertempuran menaklukkan wilayah-wilayah yang mereka datangi.
Hingga desas-desus dan berita tentang Riko serigala penakluk sampai ke telinga raja rimba yang sesungguhnya.

Dia adalah Yonking, seekor singa jantan dengan raut muka menyeramkan. Tubuhnya besar dengan bulu rambut yang tebal gondrong dari kepala menjalar ke leher hingga punggungnya.
Mendengar rauangannya saja seketika kawanan hewan lain kocar-kacir berlarian ketakutan.
Yonking sangat jarang keluar dari markas besarnya yang berada di lereng bukit berbatu.
Para anak buahnya pasukan singa selalu bergantian ditugaskan untuk mendapatkan mangsa untuk Yonking.
Ia hanya turun lereng dan keluar markas jika menginginkan selir dan istri baru yang lebih muda, maka ia dan para pasukannya akan mendatangi kelompok-kelompok kawanan singa lain yang tersebar di berbagai kawasan.
“Kurang ajar, berani sekali bocah itu, serigala macam apa dia hingga coba-coba nekat menyaingiku sebagai raja ! hey Pansu apakah benar berita yang engkau sampaikan ini ?” Berkata Yonking kepada seekor singa jantan muda yang menjadi intel sang raja singa.
“Berita ini benar raja, saya mendapatkan informasi ini dari beberapa sumber yang terpercaya, semua penduduk rimba pun sudah mendengar hal ini.” Kata Pansui menjelaskan.
“Hemm… kalau begitu kita lihat saja nanti sekuat apa dia, kita tidak perlu mencari dan memburunya, kalau nanti ia memasuki wilayah kita maka saat itulah kita kepung dia.” Kata Yonking sang raja singa kepada semua anak buahnya.
“Tapi kabarnya pasukan serigala itu terlalu banyak karena telah bergabung dengan pasukan anjing hutan wahai raja.” Kata Pansui lagi.
“Dari dulu juga mereka banyak, berapapun jumlah mereka tidak akan pernah bisa melawan bangsa singa.” Jawab Yonking percaya diri dengan sombongnya.
“Apa siasat kita untuk menyambutnya bila nanti kawanan serigala itu nekat memasuki kawasan kita wahai raja.” Tanya Pansui.
“Tidak perlu siasat untuk kita para singa, kita adalah penguasa rimba, jika mereka berani datang melawan kita hadapi saja langsung dan bunuh mereka semua.” Kata Yonking berdiri tegak dengan gayanya yang seram menggetarkan lawan.
*****
Satu bulan berlalu, di siang hari yang terasa teduh dari dalam sisi utara rimba yang di tumbuhi rimbunnya pepohonan dan semak belukar yang tinggi, terlihat puluhan kawanan serigala yang di pimpin Riko tengah menuju ke arah sebuah sungai jernih di belantara itu.
Langkah mereka tiba-tiba terhenti setelah Riko memberi komando.
“Berhenti ! tahan langkah kalian !” Teriak Riko kepada pasukannya.
“Ada apa ketua ? Kenapa kita berhenti di sini ?” Tanya Jinggo anjing hutan sebagai panglima para anjing hutan yang berjalan di sisi kiri tepat di belakang Riko. Sedangkan di belakang sisi kanan dikawal oleh panglima serigala yang bernama Zinzu.
“Aku merasa heran, kenapa kita tidak dihadang oleh Grizzly si beruang hitam penguasa wilayah ini, kemana dia ?” Kata Riko sambil memandang sekeliling.
“Hey Grizzly, kalau engkau bersembunyi dan melihat kedatangan kami maka keluarlah ! aku datang untuk melanjutkan pertarungan kita satu lawan satu !” Teriak Riko dengan keras hingga menggema ke penjuru rimba.
Sejenak suasana hening, lalu perlahan dari balik belukar rimbun muncul sang beruang Grizzly yang terlihat waspada dan berdiri menjaga jarak dari posisi Riko berdiri.
“Grrrrhrgrrhh… Ada apa lagi kau datang Riko, aku sedang tidak berminat bertarung melawanmu saat ini, kalau engkau masih menginginkan sungai itu silahkan saja, tidak masalah, aku sedang tidak ingin ada keributan.” Grizzly berkata dengan sikap terus waspada.
“Sepertinya Grizzly yang kutemui satu tahun yang lalu kini telah berubah, sepertinya engkau takut menghadapiku Grizzly, aku tidak akan menggunakan pasukan untuk bertarung denganmu” Kata Riko.
“Aku tidak ingin melayanimu Riko, kau boleh bebas di wilayah ini asal jangan ganggu aku.” Jawab Grizzly.
Pertarungannya dahulu dengan Riko cukup membuat ia jerih, ditambah lagi kini Riko datang dengan banyak pasukan tentu saja Grizzly tidak ingin mati konyol, ia lebih memilih menyerah damai.
“Oww.. begitu mau mu Grizzly, baiklah bila itu keputusanmu, tidak kah engkau ingin ikut serta bersama kami untuk minum dan mandi di sungai jernih itu Grizzly ?”
“Tidak Riko, sungguh aku lebih nyaman di sini daripada ikut kalian.”
“Baiklah, ayo kita lanjutkan perjalanan kita kawan-kawan, dan biarkan si Grizzly ini menikmati kesendiriannya.” Kata Riko kepada pasukannya sambil melangkah diiringi langkah puluhan pasukan yang tergabung dari kawanan serigala dan anjing hutan itu.
Tetapi baru saja Riko dan pasukannya melangkah tiba-tiba terdengar raungan keras yang suaranya semakin lama semakin dekat.
“Rraaauum.. rraaaummh… rrrghh…”
Terlihat belasan harimau berjalan cepat ke arah pasukan Riko, tidak lama kemudian kawanan harimau itu telah berdiri menghadang Riko dan pasukannya.
“Siapa di antara kalian yang bernama Riko ?” Berkata Seekor harimau besar dan kekar yang tidak lain adalah Rimmo sang pemimpin dari belasan harimau itu.
“Aku Riko, aku adalah raja dari bangsa serigala dan anjng hutan, ada urusan apa engkau menghadang jalanku ?”
“Waw… Ini ternyata serigala ingusan yang berlagak jagoan menantang semua raja-raja penguasa wilayah bagian di rimba ini, aku Rimmo raja harimau hadapi aku bila engkau berani maju atau mundur dan bawa semua bocah-bocah dibelakangmu itu menjauh dari kawasan ini.”
“Oww, engkau terlalu percaya diri kisanak, sebenarnya aku masih segan dan tidak ingin mencari permusuhan denganmu, mengingat nama besarmu yang melekat di seluruh rimba, tapi bila engkau ingin sedikit bermain-main aku akan melayanimu dengan senang hati.” Jawab Riko tenang.
Sementara pasukan serigala sedikit gelisah melihat belasan harimau yang bertubuh besar-besar itu, siapa pun pasti tidak ingin berurusan dengan kawanan harimau itu, karena sama saja menantang maut.
“Besar juga nyalimu bocah konyol, kau ingin bertarung satu lawan satu atau sekaligus maju terserah, kalian akan rasakan derita hebat dan akan menyesali berhadapan denganku.”
“Aku akan menghadapimu sendiri satu lawan satu, biar semua kawan-kawanmu dan pasukanku tau siapa yang layak menjadi raja di antara kita.”
“Kurang ajar ! semakin besar kepala kau bocah ingusan ! raaauuummhh !” Bentak Rimmo dan meraung, kemudian secara cepat tubuhnya sudah menerkam menerjang ke arah Riko.
Melihat tubuh harimau yang besar itu menerkam ke arahnya, Riko dengan gerakan cepat dan ringan mengelak ke samping. disusul gerakan tidak terduga Riko melompat dan mencengkram leher harimau itu.
Sang harimau terkejut dan sekuat tenaga meronta ketika lehernya berada dalam gigitan keras Riko, harimau itu meloncat dan membanting-banting tubuh riko dengan keras, yang membuat Riko melepaskan cengkramannya.
Pertarungan sengit terjadi, harimau itu sangat kuat sehingga serangan Riko yang bertubi-tubi tidak mampu membuat ia terluka ataupun tumbang.
Semua yang ada di sana hanya melihat dua ekor hewan buas itu bertempur bagai bola yang berputar-putar, raungan dan gerangan dari keduanya terdengar keras saling hantam, saling cakar dan saling mencari peluang mencengkram leher.
Hingga pertarungan itu berlangsung cukup lama, kawanan harimau yang melihat rajanya belum juga mampu melumpuhkan Riko, akhirnya mereka tidak sabar dan ikut menyerbu untuk mengeroyok Riko.
Melihat kawanan harimau menyerbu, pasukan serigala yang dipimpin Zinzu dan juga Jinggo panglima anjing hutan itu tidak tinggal diam, mereka serentak maju menyerang.
“Tahan serangan ! hentikan pertempuran ini !” Teriak Riko berkata keras yang gerakannya sangat cepat melompat cepat dan telah berada di atas sebuah batu besar.
Seketika semua diam dan pertempuran terhenti.
“Rimmo ! aku Riko tidak berkepentingan dan tidak ada urusan denganmu, aku juga tidak pernah mengusik kalian, sekalipun pertempuran ini dilanjutkan tidak akan menguntungkan apa-apa di antara kita !”
“Hmm… rraauumrgrrhhh… jadi apa maksudmu Riko ?” Jawab Rimo yang berputar-putar pelan ke kanan dan ke kiri sambil meraung menatap Riko.
“Aku menawarkan kesepakatan damai, bangsa kami tidak akan mengusik kalian dan sebaliknya kalian jangan pernah menggangu bangsa kami, tapi bila kalian bersikeras ingin bertempur maka kami sedikitpun tidak akan mundur.”
“Hey bocah ingusan, apa kapasitasmu di sini sehingga berani mengatur kami sebagai raja rimba bangsa harimau ?”
“Yang pantas mejadi raja adalah mereka yang tidak menindas rakyatnya sendiri selain sebagai mangsa yang dimakan, aku tidak melihat engkau pantas menjadi raja wahai Rimmo.”
Riko adalah serigala yang selalu kritis terhadap keadaan, segala tindakan yang ia lakukan selalu berdasarkan pertimbangan keadilan untuk bersikap.
“Kau seolah menuduhku sebagai penjahat besar Riko, sementara dirimu sendiri sudah banyak membantai penduduk rimba hey Rikko !”
“Yang aku bunuh tidak lebih dari mangsa, aku tidak membunuh selain sebagai makananku, kecuali mereka yang memilih bertempur dan tewas sebagai musuhku, tidak seperti engkau yang semena-mena mengejar dan menyakiti penduduk yang bukan untuk kau makan Rimmo”
Sang harimau seakan tidak bisa menjawab semua yang dikatakan Rikko, ia berfikir sambil berjalan berputar-putar kekiri dan ke kanan.
Ia tau apa yang dikatakan Rikko adalah benar, dalam hierarki para kesatria dalam kepemimpinan bahwa melanggar keadilan sama halnya dengan berbuat hutang besar yang kelak harus dibayar. Dan belum ada bangsa hewan manapun yang berani mengatakan hal itu secara terang-terangan di depannya.
Rasa salah membuat ia ragu dan resah untuk menolak kebenaran, ia tidak ingin sial melakukan tindakan yang brutal bila melanjutkan pertempuran terhadap Rikko.
“Selera bertempurku menjadi hilang mendengar ocehanmu Rikko, kali ini engkau beruntung kulepaskan, tapi jangan harap aku akan mengampunimu bila engkau melanggar kata-katamu sendiri.”
“Aku juga tidak tinggal diam jika engkau semena-mena di depan mataku Rimmo.”
Keduanya telah saling mengukur kekuatan, dan mereka menyadari kekuatan lawan masing-masing, kedua raja itu memilih gencatan senjata alias menunda pertempuran dalam kesepakatan damai.
“Kepalaku sakit berlama-lama melihat mukamu Rikko, dan perutku mual terlalu banyak mendengar ocehanmu, ayo kawan-kawan ! kita pergi dari sini dan biarkan saja mereka tetap hidup selama tidak mencari perkara dengan bangsa harimau, ingat ucapanku hey Rikko !” Kata harimau itu berkata keras sambil berjalan diikuti kawanan harimau meninggalkan tempat itu.
Dari celah belukar, dan dari balik pepohonan serta di atas dahan-dahan dan ranting, sedari tadi puluhan pasang mata menyaksikan pertarungan dan percakapan antara harimau dan serigala itu, mereka yang mengamati itu adalah penduduk rimba dari bangsa musang, tupai, burung hutan, ular dan kadal.
Mereka berharap sang harimau mematuhi dan berlaku seperti apa yang diucapkan Rikko, tidak seperti yang mereka alami saat ini sang harimau semena-mena menindas dan suka membunuh tanpa alasan.
Rikko dan pasukannya kemudian melanjutkan perjalanan menuju sungai besar dan jernih di hutan itu.
Sementara itu, setelah cukup jauh kawanan harimau yang dipimpin Rimmo menyusuri jalan, mereka bertemu dan dihadang oleh sekelompok singa yang di pimpin oleh Yonking dalam perjalanannya.
“Rraaauuummgrrhh….” Yonking meraung dengan suara keras dan berdiri tegak dengan wajah sangar menyeramkan.
“Aku kira engkau sudah mati karena seranganku waktu itu dan lama tidak pernah terlihat lagi Yonking.” Tegur Rimmo.
“Seranganmu tidak ada apa-apanya Rimmo, sekarang kita bertemu dan mari kita lanjutkan urusan kita yang belum selesai.”
“Apanya yang belum selesai Yonking, aku sudah menganggapnya selesai, dan saat ini berburu babi dan menikmati daging segar lebih menyenangkan daripada bertempur denganmu Yonking.”
“Yang ada di otakmu hanyalah makan saja Rimmo ! sementara ada seekor serigala yang berlagak jagoan mengobrak-abrik seluruh rimba engkau sama sekali tidak tau.”
“Bila yang kau maksud adalah Rikko serigala itu, aku baru saja bertemu dan bertarung dengannya Yonking, kau yang sudah terlalu tua sehingga kurang update semua perkembangan di rimba ini.”
“Kurang ajar ! mulutmu itu selalu menyakitkan dan tidak pernah menyenangkan bila bicara Rimmo, akan ku robek dan kucabik mulut besarmu itu.”
“Sekarang aku tidak ingin buang-buang tenaga melayanimu Yonking, perutku lapar dan bila kau bersikeras ingin bertempur denganku maka kau akan kehilangan jejak serigala yang sedang berada di sungai utara.
“Hmmm… saat ini kau boleh lega karena kulepaskan, lain waktu aku akan membuat perhitungan lagi denganmu Rimmo.”
“Ya, aku berharap engkau masih bernafas setelah bertempur dengan serigala itu Yonking.” Kata Rimmo yang semakin memprovokasi amarah Yonking yang membuatnya semakin tidak sabar untuk segera menemukan Rikko.
“Ayo kita bergerak cepat menuju sungai utara.” Kata Yonking kepada pasukan singa, lalu ia melesat cepat berlari diiringi kawanan singa yang berlari bagai berterbangan meninggalkan kawanan harimau tersebut.
Bersambung ke Bagian 4